Di bawah langit kampus merah Universitas Hasanuddin, langkah seorang kader muda Nahdlatul Ulama dari Kalimantan Timur menorehkan jejak yang tak biasa. Mupit Datusahlan, Sekretaris PW GP Ansor Kaltim, baru saja menuntaskan sidang hasil penelitian disertasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas — sebuah tahapan penting menuju gelar doktor dalam bidang Antropologi.
Namun, ini bukan sekadar cerita akademik. Ini kisah tentang perjuangan panjang seorang aktivis desa yang menempuh jalur intelektual tanpa meninggalkan akar sosialnya.
Perjalanan yang Tidak Mudah
Di balik jas merah Unhas yang kini melekat di pundaknya, tersimpan perjalanan penuh liku. Mupit bukan datang dari menara gading, melainkan dari barisan rumput kampung — seorang mantan kepala desa yang meniti jalan ilmu sambil terus berkhidmat pada masyarakat dan organisasi.
“Menulis disertasi sambil tetap aktif di lapangan itu seperti menulis di tengah badai. Tapi justru di situ letak nilai perjuangannya,” ujar salah satu dosen pembimbingnya dengan bangga.
Risetnya yang berakar dari pengalaman nyata menjadi kepala kampung menjelma menjadi bahan reflektif tentang kepemimpinan lokal, transformasi sosial, dan makna pengabdian di tengah perubahan zaman. Inilah disertasi yang bukan hanya berbicara tentang teori, tetapi juga napas masyarakat yang sesungguhnya.
Simbol Kebanggaan GP Ansor Kaltim
Pencapaian ini menjadi kebanggaan besar bagi PW GP Ansor Kalimantan Timur. Di tengah kesibukan kaderisasi, advokasi, dan gerakan sosial, kehadiran Mupit di ruang akademik tertinggi menjadi simbol bahwa kader Ansor bukan hanya bisa berorasi, tapi juga berargumentasi secara ilmiah.
“Ini bukti bahwa kader Ansor Kaltim tidak hanya kuat di jalan pengabdian, tetapi juga tajam di dunia akademik. Kita butuh intelektual-organik seperti Mupit,” ungkap salah satu pengurus PW GP Ansor Kaltim.
Bersama, Bersatu, Berjaya
Slogan “Bersama, Bersatu, Berjaya” yang terpampang di dinding FISIP Unhas seolah menjadi cermin perjalanan Mupit. Ia datang bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga semangat kolektif ribuan kader muda yang ingin membuktikan bahwa ilmu dan iman bisa tumbuh dalam satu tubuh perjuangan.
Kini, setelah melalui sidang hasil yang sukses dan diapresiasi, langkah berikutnya tinggal menuju sidang promosi doktor. Tapi lebih dari itu, capaian ini telah menegaskan satu hal: pengabdian sosial dan intelektual bukan dua jalan berbeda — keduanya adalah rel ganda menuju perubahan.
Refleksi Akhir
Ketika banyak orang mengejar gelar demi gengsi, Mupit memilihnya sebagai sarana pengabdian. Ia menyatukan dua dunia: dunia birokrasi kampung dan ruang ilmiah kampus. Ia bukan sekadar mahasiswa doktoral, tapi juga pejuang nilai yang menulis sejarahnya sendiri.
Di hadapan gedung merah FISIP Unhas yang megah, ia berdiri tegak dengan jas almamater, senyum lebar, dan tangan terkepal — bukan tanda selesai, tapi isyarat bahwa perjuangan baru saja dimulai.
“Dari kampung kecil di Berau menuju podium ilmiah di Makassar — Mupit Datusahlan membuktikan bahwa perjuangan tak mengenal batas. Ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kebanggaan seluruh kader Ansor Kalimantan Timur.”












