Sahabat Cerpen

“Laki – Laki Plastik”

189
×

“Laki – Laki Plastik”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Zukhrizal Irbhani.

Sesayang apapun aku, kamu lebih mementingkan teman-temanmu itu, organisasimu itu

Sepenggal Cerpen dari Karya Irbhani “Laki-Laki Plastik”

(**)

Akhir-akhir ini cuaca sangat menguntungkan bagi penjual es teh di kampus. Matahari seolah sejengkal lebih dekat dari sebelumnya. 

Kali ini hari hawanya tak sekedar menyengat kulit tapi juga terasa pengap. Karena tak ada angin yang mondar-mandir seperti biasanya. 

Ini tanda, walau langit biru bersih tapi sepertinya ini akan turun hujan. Aku mencoba mengatasi cuaca ini, setelah selesai kelas aku singgah di taman Unmul untuk sekedar cari angin dan minum es teh. Sekitar satu jam aku duduk di sana, beberapa lembar cerita Layla Majnun ku lalui, instagram juga bolak-balik ku scroll sampai bosan. 

Tiba-tiba aku tersadar, baru kulihat  di pojok samping warung Bulek penjual es teh, di bawah payung besar yang warna-warni itu ada pemandangan yang membuat iklim dalam hatiku menjadi seperti cuaca hari ini.

Di sana terlihat dua orang yang kukenal, pasangan yang menurutku sangat tidak proporsional. 

Tapi apa bisa dikata, pepatah bilang “cinta itu buta”. Laki-laki itu bernama Ihsan. Kulitnya coklat seperti tanah yang biasa dibikin gerabah. Postur badanya tidak terlalu tinggi standar ras mongoloid pada umumnya. 

Namun badanya itu lo, beratnya sampai 105kg. Sontak aku langsung teringat musim-musim menjelang tanam padi di kampung, aku teringat kerbau milik Pak Man yang jinak dan penurut itu yang kadang-kadang pemalas. Tetapi, sama sekali dia tidak mirip dengan kerbau itu, malah rasaku dia gagah seperti salah satu tokoh dalam pewayangan. Sebut saja Bagong.

Lalu di depanya duduk perempuan yang matanya bersih sepeti bulan di pertengahan ramadhan. Namanya Dewi, kalau lengkapnya aku tidak tahu. Dia benar-benar cantik walau tingginya mungkin hanya sampai sikunya Cristiano Ronaldo saja. 

Wajahnya bersih, benar-benar bersih. Bibirnya seperti jambu merah, senyumnyapun demikian seperti jambu merah yang matang, manis dan sehat untuk dipandang. Jika ku carikan padanan kecantikanya mungkin seperti Bibi Lung yang digambarkan Jin Yong dalam kisah Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti. Betul-betul mempesona.

Mereka menarik perhatianku yang kepo ini. Mereka terlihat sedang bersitegang. Dewi pipinya memerah, mungkin karena panasnya hari. Tapi matanya juga merah menyala, dugaanku dia sedang marah. Sedangkan Ihsan mukanya basah kepalanya menunduk seperti murid sekolah yang sedang dihukum gurunya karena bersalah. Akupun perlahan pindah tempat duduk, mencoba mendekat tanpa mereka sadari dan jangan sampai mereka curiga kalau aku menguping.

“ Aku minta maaf ya, aku nggak bermaksud.” Kata Ihsan memohon dengan melas.

“Maafin aku ya, aku janji nggak ngulangin lagi.” Kembali ia memohon.

“Nggak! Nggak ada maaf-maafan.” Ketus, tegas Dewi menjawabnya.

“Maaf, maaf sayang.”

“Sayang-sayang nggak ada sayang-sayangan. Kau tu nggak cuma sekali begini! Sebenarnya apa sih di kepalamu? Aku ini penting nggak sih? Sedikit-sedikit organisasi, sebentar-sebentar rapat, waktu buat aku kapan? Ha! Orang lain saja kamu pikirkan. Sok-sokan bela ini bela itu. 

Tai! Kalau begini terus kita udahan saja. Capek aku sama kamu! Su!.”

“Maaf sayang, aku janji…” Jawab Ihsan dengan melelehkan air mata.

“ Janj-janji apa! Janjimu itu palsu nggak ada buktinya. Bulshit! Dari dulu aja kamu bilang gitu. Capek aku, kamu itu nggak pernah berubah. Memang ya aku itu nggak penting buat kamu. 

Sesayang apapun aku, kamu lebih mementingkan teman-temanmu itu, organisasimu itu. Pokoknya cukup, jangan ganggu aku lagi. Karena kamu itu nggak akan pernah bisa berubah.”

Dewi pun mengenakan tasnya dan berdiri hendak pergi. Namun yang bikin kaget adalah si Ihsan merengek, bersujud dan meraih kaki Dewi. 

Sontak Dewi pun marah dan berusaha melepaskan genggaman Ihsan yang menempel di kakinya. Betul-betul seolah aku sedang menonton drama di FTV.

“ Apa-apan sih kau. Bikin malu saja, tahu kah!.” Dengan menghempaskan tas yang ditentengnya.

“ Aku minta maaf, janji aku bakal ninggalin organisasi buat kamu.”

“Halah.”

Tanpa peduli apapun yang dikatakan Ihsan, Dewi meninggalkanya. Ihsan pun mencoba mengejarnya. Dan derap kaki mereka berlari menuju parkiran dan meninggalkan taman. Para pengunjung taman yang lainpun melihat drama tersebut dan mulai berspekulasi menceritakannya.

Mataharipun berlalu. Sebelum magrib tadi aku meninggalkan taman itu. Dan drama tadi sungguh terngiang-ngiang di kepalaku.

Sekarang pukul delapan malam. Hawanya dingin, gerimis yang jadi sebabnya. Dan dinginpun mulai merasuk ke dalam perutku yang mendukung rasa lapar. Aku lengkap dengan jaket dan sepatu pergi mencari tempat makan. 

Menurutku semangkuk bakso yang panas dan pedas cocok untuk malam ini. Akupun menuju jalan Ahmad Yani. Di sana ada tempat makan bakso yang populer, yang baksonya sebesar bola tenis.

Baru sampai di depan warung bakso, belum aku masuk. Aku terkejut, kaget. Seperti melihat jumpscare di video prank yang biasa temanku kirimkan. Di dalam sana ada Ihsan, betul-betul Ihsan. Bajunya masih sama seperti tadi siang yang kulihat, hanya raut wajahnya yang sangat berbeda. 

Tadi siang mukanya memelas lengkap dengan air matanya. Kini ia sangat semringah, terlihat begitu ceria saling suap-suapan bakso dengan seorang perempuan. Dan  yang pasti itu bukan Dewi. Aku hafal betul. Itu Nia anak ekonomi.

“Laki-laki bangsat!” Hatiku tak tahan untuk mengumpat.

-TAMAT-

Para sahabat pembaca yang budiman 😇, ini cerpen ringan-ringan saja. Sedikit potret kisah remaja dewasa ini. Semoga dapat menghibur dan berkenan di hati. Terima Kasih. (Irbhani)

========•=======

Halo Sahabat Cerpen,

Kali ini Sahabat kita menyalurkan cerpen luar biasanya untuk kalian loh. Cowo ganteng N’ tampan ini (hehe biar dikirim lagi🥹) merupakan Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Loh. Kerennya lagi, penulis ini sangat giat di Komunitas TerAksara. Nah, pastinya kalian pasti pada tau. Semoga Terhibur Sahabat Cerpen. Babayyy.(Red)

Buat Kalian Yang Pengen diekspos Cerpen Karya Literasinya. Boleh menghubungi kami melalui DM Instagram atau kalau udah tau Redaksinya. Ya tinggal Calling aja deh🤣

error: Content is protected !!