Sahabat Cerpen

“Aku Kamu Dan Waktu” (Ep:2)

103
×

“Aku Kamu Dan Waktu” (Ep:2)

Sebarkan artikel ini

Penulis : Nadya Yolanda.

Melihat Kejadian Tersebut Benar-Benar Membuat Hancur Hatiku. 

Sepenggal Cerpen Aku Kamu Dan Waktu Episode 2 Karya Nadya Yolanda.

(***)

Aku hanya menatapnya dengan tajam. “Ada yang salah, Pak?” tanyaku.

“Berdiri di luar sampai jam pelajaran saya selesai!” tegasnya.

Sepontan aku menendang kursi yang tidak jauh di dekatku, dengan kesal aku melangkah keluar. Aku terkenal nakal di sekolah ini, karena termasuk orang yang sangat susah di atur. 

Nilai selalu merah, pergaluan bebas, pertengkaran, bertemankan rokok dan minuman keras sebagai asupan setiap malamku. Begadang dan meratapi nasip sebagai anak yang di telantarkan oleh orang tua sendiri, kenapa aku melakukan semuanya. Karena aku tidak punya pilihan.

15 tahun yang lalu, aku ingat sekali saat ibuku menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh ayahku, membuatku sangat ketakutan melihatnya terus-terusan di pukuli oleh ayahku. 

Ayahku seorang pemabuk dan suka berjudi. Setiap malam, jika ibuku terlambat membukakan pintu, ayahku selalu memukulinya. 

Aku melihat itu, benar-benar merasa menjadi seseorang anak yang tak berguna. Karena tidak bisa menolong ibuku saat itu, dan hanya bersembunyi di bawah meja. Usiaku pada saat itu masih 5 tahun. 

Melihat kejadian tersebut benar-benar membuat hancur hatiku. 

Hingga akhirnya, ibuku meninggal saat aku berusia 10 tahun. Dibalik sabarnya ibuku menghadapi ayahku serta mengurusku dengan baik, ternyata ibuku mengidap kanker darah yang sudah tidak bisa terobati. 

Hingga akhirnya merenggut nyawanya. Aku mengingat betul pesan terakhirnya padaku, agar aku terus, belajar dan tidak menghentikan pendidikanku di tengah jalan. Itulah alasan terbesarku saat ini, untuk terus menjalani hidup tanpa tujuan yang pasti.

Saat di hukum keluar dari kelas, aku memutuskan untuk pergi ke kantin. Ibu kantin juga sudah hafal betul dengan kedatanganku kemari setiap pagi. 

“Telat, maneh?” cetus Bu kantin.

Aku hanya cengengesan saja saat ia bertanya begitu padaku. Aku langsung menyantap makanan yang dibawakannya di hadapanku. 

“Besok, besok jangan telat lagi.” Sambungnya sebelum meninggalkan meja tempatku duduk.

“Iya besok, besoknya lagi ngak telat. Hahaha,” jawabku sederhana.

Ibu kantin hanya hanya geleng-geleng kepala sambil melanjutkan pekerjaannya. 

“Bagus sekali, kamu ya! Saya menyuruhmu berdiri di koridor. Tapi kamu malah ke kantin, makan lagi!” kata Pak Gufron sambil menjewer telingaku.

“Aaaa aaaa aduh pak, sakit pak, ampun,” rintihku kesakitan.

“Biarin, biar tau rasa.

Tanpa melepaskan tangannya dari telingaku, ia menarik dan membawaku ke sebuah lapangan. 

Anak-anak kelas sebelah yang sedang belajar olahraga di lapangan menyorot tajam ke arahku. 

Aku tidak memerdulikan semua itu. aku mengelus telingaku saat tangan Pak Gufron lepas dari telingaku. 

Memastikan apakah telingaku baik baik saja.

“Mengapa, kamu susah sekali di atur Abdul Rehman? Sudah nilai selalu merah, telat masuk ke kelas, jarang mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR). Kerjaannya tawuran saja. Kamu mau saya tidak naikkan kelas 12 lagi? Mau?”

Aku menunduk terdiam, setiap kali aku di marahin habis-habisan. Aku hanya bisa terdiam, selalu teringat perkataan ibuku untuk tidak melawan siapa gurumu dan menghormatinya ketika ia berbicara.

Selang berapa waktu Pak Gufron meninggalkanku sendirian di tengah lapangan. Bersama dengan terik matahari menyengat mengenai kulitku, dengan posisi hormat pada bendera sampai pelajarannya selesai.

Bel tanda istirahat terdengar setelah 20 menit berlalu, aku yang tadinya berdiri di lapangan segera pergi beranjak ke belakang gedung sekolah. Menyegarkan diri dengan sebatang rokok yang kubawa. Tempatku menyendiri, dengan pemandangan indah dari atas gedung.

Saat aku baru saja tiba, aku melihat seseorang duduk di tempat biasaku duduk. Aku menatapnya heran, siapa yang berani datang kemari selain aku? Aku memerhatikannya dengan seksama, siapa dia yang berani kemari? Gumamku kesal.

“Siapa kamu? Ngapain kamu ada di sini?” tanyaku sinis. Sambil menyalakan sebatang rokok.

Saat mendengar suaraku, ia langsung berdiri dan menatapku merasa bersalah. Ia memerhatikan penampilanku dengan seksama. Ekspresinya mencerminkan antara rasa bersalah dan juga tidak enak.

“Ma-maaf. Aku hanya sedang membaca buku!”

 Aku terkejut saat melihatnya. Wanita itu? Bukannya ia yang kulihat pagi ini di ruang kantor? Bagaimana bisa ia sampai kemari?

“Tidak keberatankan, jika aku disini?” tanyanya saat melihatku terdiam.

 Aku hanya menggelengkan kepala, lalu pergi beranjak darinya.

“Tunggu dulu!”

Katanya menghentikan langkahku. Ia berjalan ke arahku dan berdiri tepat di hadapanku.

“Aku Sarah! Kamu?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya kepadaku.

Senyumannya yang manis dan memikat, wajahnya yang berbinar bersih. Membuatku terpaku menatapnya. Tapi, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

Aku melaluinya begitu saja, tanpa memberi tahu siapa namaku.

(***)

Mata pelajaran berikutnya, dengan cuaca yang mulai mendung. Aku duduk di sudut meja belakang. Selang berapa waktu, pak gufron masuk dengan diikuti oleh seseorang di belakang. Aku tidak terlalu memerhatikan, aku fokus pada lamunanku di balik jendela.

 Di balik jendela, bersama dengan rintik hujan. Aku menatapnya dan menenggelamkan diri pada lamunan. Seiring mata memandang, aku yang acuh dan jarang berbicara pada teman-temanku. Karena, memang tak ada seorang pun yang mau berteman denganku ataupun duduk bersebelahan denganku.

“Selamat pagi, menjelang siang anak-anak! Kita kedatangan murid baru. Silakan perkenalkan diri kamu!” kata Pak Gufron mempersilakan.

“Selamat siang, perkenalkan saya, Sarah Mardiyah Al-Husein. Teman-teman bisa memanggilku Sarah.”

Aku yang mendengar nama sarah itu, langsung menoleh dengan sepontan. Bagaimana bisa, dia ada di kelas ini? gumamku.

“Silakan, Sarah. duduk di sebelah Abdul.” Kata Pak Gufron.

Kebetulan, kursi yang kosong hanya ada di sebelahku.

“Jangan sarah duduk di sebelah Abdul, Pak! Nanti dia ketularan berandal!”

Seorang anak mencetus demikian, bersamaan dengan riuhnya tawa meledek dari ruang kelas.

“sudah, sudah! Tenang semuanya!” kata Pak Gufron mengingatkan.

Aku yang mendengar hal itu, merasa abai, bodo amat dan juga cuek dengan situasi kelas.

“Hai,” sapa Sarah padaku.

 Aku hanya memalingkan wajah darinya.

“Ternyata nama kamu Abdul, salam kenal.”

Sapaan ramah itu, membuat hati ini menjadi tenang. Seolah sihir yang bisa memadamkan sebuah api yang berkobar.

BERSAMBUNG….

Pesan Penulis Bagi Sahabat Cerpen:

Hay… Pembaca setia cerpen. Gimana eps 2 ini? Serukan! Pasti seru dong… Thank you yaa sudah berkenan baca cerpen karyaku. Semoga kalian suka… Terus pantengin kelanjutannya yaa… Eps 3 akan segera hadir… 

Salam manis, penulis ❤️

error: Content is protected !!