Sahabat Cerpen

“Aku Kamu Dan Waktu” (Ep:3)

96
×

“Aku Kamu Dan Waktu” (Ep:3)

Sebarkan artikel ini

Oleh: Penulis : Nadya Yolanda.

Dengan suara lembut dan sikap sabarnya, perlahan-lahan ia menjelaskan sampai aku mengerti.

Sepenggal dialog Rehman bersama Sarah, “Aku Kamu Dan Waktu”.

{****}

Sapaan ramah itu, membuat hati ini menjadi tenang. Seolah sihir yang bisa memadamkan sebuah api yang berkobar.           

 Aku yang berpenampilan berandal, masih saja dengan gaya sama menatapnya. Dengan jutek. Aku meliriknya seketika, memerhatikannya diam-diam. Dia anak yang sangat rajin belajar, wajahnya juga cantik, senyumnya juga manis. Hijab yang menjulur hingga menutupi dada, terlihat dengan jelas jika ia adalah gadis baik-baik.

“Kamu ngak nyatat?” tegurnya saat melihatku tidak memegang pena dan menulis.

Aku memalingkan wajah saat ia bertanya pada ku. Saat sudah terlihat ia tidak melihat ke arahku, aku mulai mencuri pandang kepadanya. Menatapnya secara diam-diam. Melihat ke buku yanga da di hadapannya, apa yang sedang ia kerjakan? Batinku.

“Kamu mau nyatat!” cetusnya saat memergokiku melihat bukunya sambil tertawa.

“Ngak!” sahutku singkat.

Ia tersenyum simpul, kemudian meletakkan bukunya tidak jauh dariku agar aku bisa menyalinnya dengan mudah.

 Aku merasa memiliki teman, walau aku ragu mengakui. Tapi setidaknya aku mulai belajar di kelas. Sudah 2 tahun ini aku tidak naik kelas, sebab tidak ada yang mau berteman denganku. 

Aku di ledek teman sekelas karena tidak naik kelas. Hanya untuk membela diri, aku harus menjadi lebih kasar dan lebih liar agar semua orang berhenti menghinaku. Sebab itu, yang membuat semua orang enggan berteman denganku walau hanya sekedar berbincang denganku.

Melihat perlakuan sarah kepadaku, membuatku terpacu untuk mulai belajar. Aku mengambil pena yang tidak jauh dari buku. Kemudian, mulai membuka buku dan mencatat apa yang di tertulis di buku sarah.

“Kamu sudah paham dengan rumus ini?” tanya Sarah padaku sambil menunjukkan sebuah rumus padaku.

Aku mentapnya, kemudian menggelengkan kepala dengan bingung. Sarah melempar senyum hangat, kemudian menarik bukunya dan di hadapkan kepadaku. Lalu, ia menjelaskan perlahan-lahan tentang mata pelajaran Matematika tersebut. Dengan suara lembut dan sikap sabarnya, perlahan-lahan ia menjelaskan sampai aku mengerti. Lalu, ia memberiku contoh soal dan menyuruhku untuk mengerjakannya.

“Kalo sudah, kasih tahu ya.”

Bertepatan dengan itu suara bel tanda istirahat berbunyi. sarah yang tadinya antuas membantuku mendadak terpaling dengan adanya suara bel.

“Hey, Sarah. Kenalin aku Melia!” seseorang datang memperkenalkan diri.

“Oiya… salam kenal!” sahutnya sederhana.

“Mau ke kantin? Yuk sama aku!” ajaknya bersama kedua rekannya.

“Ah… tidak, aku bawa bekal.”

“Duhh… masih zaman ya bawa bekal gitu?”

Sarah tidak menanggapi, kemudian ia berpaling menatap ke arahku.

“Tempat kemarin sangat bagus rehman, bagaimana kalo kita kesana?” ajaknya dan mengabaikan Melia.

Aku yang tadi masih menulis itu pun langsung meng-iyakan perkataannya dan beranjak melewati melia.

***

“Apa itu! Matikan! Matikan!” bentak Sarah saat melihatku menyalakan korek yang akan mengenai sumbu rokok.

“Apa?” tanyaku bingung.

“Ini, tidak boleh kan di sekolah!” ia mengambil rokok yang ada di mulutku dan membuangnya begitu saja.

“Astaga… itu beli pake uang, Sarah! bukan pake daon!” celetuk ku tanpa sadar.

“Aku enggak suka cowo yang merokok di sekolah!”

Sarah yang marah, menekuk wajahnya marah. Membuatku merasa bersalah. Korek dan juga beberapa sisa rokok lainnya aku buang di hadapannya. Ia mulai sumringah dan mengajakku duduk menikmati pemandangan indah sambil menikmati nasi goreng yang di masaknya dari rumah.

“Kenapa saat Melia mengajakmu ke kantin kamu tidak mau?” tanyaku memecah hening.

Sarah menggeleng, “ngak mau. Liat aja penampilan melia, mengenakan anting di hidungnya dan juga rambut yang di semir kemerahan seperti berandal. Baju, di gulung hampir ke bahu. Terus gaya bicara yang sok, seolah pemilik dari sekolah ini saja. Ah… pokoknya aku tidak suka!”

Aku terdiam, menelaah perkatannya. Aku juga mengenakan anting di telingaku. tapi kenapa ia masih mau berteman denganku? Batinku.

“Kenapa?” tanya sarah heran.

“Melia juga sama kali kayak aku!”

“Kamu? Jelas beda, awal aku bertemu denganmu kamu tidak bersikap sok akrab begitu! Kamu bahkan berani meninggalkanku sendiri disini.”

Sejak perbincangan saat itu, aku dan Sarah mulai akrab dan sering menghabiskan waktu belajar berdua.

BERSAMBUNG..

*************************

Halo… para pecinta cerpen! Gimana sama episode 3 ini, menarik bukan? 😭Yuk pantengin terus buat cerita selanjutnya. Pasti bakalan makin seru!😎

Nb: Sorry sempat tertunda eps 3 ini, penulis sedang menghadapi badai serta ombak yang menerjang demi melanjutkan cerita ini. semoga suka yaaa… bye bye!🥰🥰

error: Content is protected !!