Sahabat Cerpen

Memberinya Hidup Sesudah Mati (Ep:1)

152
×

Memberinya Hidup Sesudah Mati (Ep:1)

Sebarkan artikel ini

Perlukah Hidup Dalam Bayang-Bayang Kata ? (Ilustrasi)

Memakiku Dengan Matamu Terlihat Lebih Kejam, Daripada Katamu.Bait Cerita Episode 3 ~Memberinya Hidup Sesudah Mati~

Karya Topan Setiawan

CLARA GADIS 23 TAHUN asal purwokerto, berparas cantik, berkulit putih nan bersih. Dengan bola mata hitam yang saling menatap.  Tak sedikit, pria yang terpanah melihat parasnya. Bahkan, soleknya pun terlihat natural. Seperti tidak memakainya. Lugu dan penurut. Pastinya, para pria banyak yang mengincar gadis berambut panjang ini, apalagi dengan warna hitam khas perempuan Jawa. Menambah kesan lembut dan anggun ketika memandangnya dari kejauhan.

Menjalani hidup sebagai mahasiswi Universitas Purwokerto. Tak ada bedanya, dari perempuan kebanyakan. Ketika pagi, menjelang, mentari menyentuh dinginnya embun yang menetes langit-langit daun. Membuat suara bising kicauan burung, menandakan pagi sedang menyambut aktivitas manusia. Bagai rayuan alam,  menyambut hari yang cerah. 

Tiap harinya, Clara rutin menyirami tanaman bunga di depan teras rumahnya. “Claraaa, Jangan Lupa, Bunga Cantik Mama juga ya,” ucap sang mama menyapa lembut anak se-mata wanyangnga. “Iya mama ku cantikk,” balasnya dengan tersenyum hangat. “Clara, siap-siap gih, sebentar lagi mau Kuliah,” jawab sang mama mengingatkan Clara. “Ohhh Iya,, Clara ada jam kuliah pertama,”.

Dengan wajah, yang panik Clara dengan langkah kecilnya,mensegerakan diri untuk mengemas barang-barang yang akan di bawanya. Nafas terhenga-henga dan tak beraturan, Clara berlarian mencari kunci motor matic nya. “Mamaaa, Kunci Motor Clara mana yaa?,” kata Clara berteriak panik. “Coba cari di meja depan, mama taruh di sana,” jawab Mama menunjuk arah sembari membalikan Ikan Goreng, bekal favorite Clara.”

Sembari mengemas barang bawaanya dan bekal yang dipersiapkan mama. Clara pun bergegas menuju kampus tercintanya.

*************^^********

KERAMAIAN para mahasiswa, selalu menghiasi lingkungan kampus itu. Diskusi, bernyanyi, tertawa, berdialektik, bersajak, nongkrong, hedon, agamis, aktivis hingga apatis pun terkumpul. Seperti Replika negara yang terhimpun dalam satu lingkungan kampus. Saat itu, Clara telah menyelesaikan tugas mata kuliahnya. Bersama Sahabat Karibnya, Intan. Seperti dua mata koin yang berbeda, namun tak terpisahkan. Itulah gambaran persahahabatan ke duanya. 

Bahkan, mereka dianggap saudara kandung oleh beberapa teman-temannya. Sangking dekatnya persahabat yang terjalin. “Lara, panas bangett nihh, ngadem yuk di cafe” gerutu Intan. ” Aku mau aja sih ntan, tapiiii,”. “Tapiii apaa,” jawab judes dengan tatapan tajam mengarah kepada Clara.

” Haiii Clara, ” kata Laki-laki tak dilkenalinya.

Sentak, Intan menghentikan percakapannya. Ketika lelaki berhidung mancung, dengan alis tebal berperawakan tinggi itu, menyuguhkan seuntai bunga kepada Clara. ” Haii juga,” jawab Clara berwajah bingung. Ketika lelaki yang tak dikenalinya itu, memegang seuntai bunga. Dan menerima pemberiannya.

Tak banyak cakap, lelaki itu meninggalkan Clara  tanpa mengucapkan sepatah kata. Sembari tersenyum, lelaki yang diketahui juga berkuliah di kampus yang sama, tempat Clara menimba gelar sarjananya.

Tak sedikit, para lelaki memberikan hadiah kepada Clara. Karena parasnya yang begitu indah di mata para lelaki.

BERSAMBUNG…..

Prakata Penulis: Hai Para Sahabat šŸ˜‡, Mungkin ini Tulisanku yang Pertama, semoga kalian terhibur. Jadi Sedikit Gambaran buat para sahabat pembaca. Si Clara diambil dari realita cerita asli ya. Dan keresahan penulis melihat kasus perempuan di mana-mana memandang perempuan. Nantikan kelanjutannya di Episode selanjutnya. Penulis merupakan redaksi dari Timeskaltim.com ya guys. šŸ™šŸ˜‡

Note: Maafkan apabila tulisan ini, masih banyak kekuarangan. Karena Penulis sedang Demam tinggi guys.šŸ¤’

error: Content is protected !!