Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Hukum & PeristiwaNewsSamarinda

Keadilan Tak Berpihak, Ayah Tak Terima Anaknya Dicabuli, Malah Ditangkap

336
×

Keadilan Tak Berpihak, Ayah Tak Terima Anaknya Dicabuli, Malah Ditangkap

Sebarkan artikel ini

Anak kesayangannya, harus merasakan bejatnya seorang pria pelaku pencabulan. Namun Sang Ayah pun berakhir di Bui karena tak terima dari kelakukan tersebut.(Ilustrasi)

Timeskaltim.com, Samarinda –  Bocah berumur 9 tahun harus menjadi korban pencabulan pria berinisial AS (41). Ayah korban yang tak terima memukul AS dan melaporkan kejadian yang dialami anaknya ke kantor polisi.

Namun keadilan tak berpihak kepada sang Ayah yang naik darah anaknya di cabuli pria tersebut. Malahan terduga pelaku AS justru melaporkan balik ayah korban dengan pasal penganiayaan terhadap dirinya. Ayah korban akhirnya dipanggil untuk diperiksa polisi di kasus pemukulan terhadap AS.

“Jadi tidak ada itu kami lebih mendahulukan laporan penganiayaan ketimbang kasus pencabulan. Semuanya sama-sama berproses karena sama-sama saling melaporkan,” kata Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Andika Dharma Sena saat ditemui awak media, Rabu (1/9/2021).

Dua kasus ini masih dalam penyelidikan pihak kami, dan belum ada yang kami tetapkan tersangka karena terus berproses,” jelas Andika.

Soal kasus pencabulan, Andika beralasan belum dapat diproses karena penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polresta Samarinda sedang isolasi mandiri lantaran positif COVOID-19. Andika menyampaikan sejauh ini pihaknya telah memeriksa korban, ayah korban, dan salah satu saksi mata di lokasi kejadian.

“Terkait laporan pencabulan besok kita dampingi korban dulu melakukan pemeriksaan psikologinya. Selanjutnya kita mintai keterangan terduga pelaku,” ucapnya.

Baca Juga: Naas, Bocah 11 Tahun Samarinda Tenggelam Ketika Ingin Berkunjung Ke Tempat Neneknya

Historia Kasus Bermula

Peristiwa dugaan pencabulan itu terjadi pada 15 Juli 2021 saat korban bermain di halaman rumah saudara ipar terduga pelaku. Korban diduga dicabuli saat hendak salat Magrib.

“Korban ini lagi bermain dekat rumah keluarga terduga pelaku. Kebetulan masuk, melihat kolam renang yang ada di dalam rumah,” ucap penasihat hukum korban pencabulan, Bambang Edy Dharma, saat dihubungi, Rabu.

Pengakuan korban kepada orang tuanya, saat berada di dekat kolam, oleh terduga pelaku dadanya korban diremas, dipeluk dari belakang, dan bibirnya dicium sampai lidahnya (pelaku) dimasukkan,” sambung Bambang.

Korban yang menangis hingga di rumah akhirnya mengadukan perbuatan terduga pelaku AS kepada ibu dan ayahnya. Ayah korban langsung naik darah dan mendatangi hingga memukul terduga pelaku hingga wajahnya berdarah.

“Pemukulan itu terjadi karena orang tua korban kesal atas perlakuan terduga pelaku terhadap anaknya,” terangnya.

Bambang menuturkan ayah korban selanjutnya mengadukan kasus dugaan pencabulan terhadap anaknya oleh AS pada 16 Juli. Namun, pada 5 Agustus, AS melaporkan balik tindakan penganiayaan yang dilakukan ayah korban kepada polisi.

Bambang lalu mempertanyakan sikap polisi yang lebih dulu memanggil ayah korban untuk diperiksa di kasus pemukulan terhadap AS. Sementara itu, menurut Bambang, AS hingga kini belum diperiksa pada kasus dugaan pencabulan.

Ini agak janggal. Padahal pelaku yang melakukan pelaporan pada 5 Agustus 2021 atau dua minggu setelah kami laporan ke kepolisian. Dan yang dahulu dipanggil adalah ayah korban dengan dugaan pidana penganiayaan. Kami sangat mempertanyakan itu,” jelas Bambang.

Baca Juga : PT. Niagamas Menangkan Gugatan Atas KSU Suka Maju

Selain itu, Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA), Rina, berharap kasus pemukulan oleh ayah korban si bocah diselesaikan dengan cara dimediasi oleh pihak kepolisian. Rina menilai sikap ayah korban wajar.

“Kalau saya sih begini, jika bisa, dimediasikan saja karena kasihan. Karena siapa pun pasti marah anaknya mendapatkan perilaku tidak senonoh,” ujar Rina.

“Jadi semoga kepolisian bisa melakukan tindak mediasi saja, karena kasihan. Sudah anaknya mendapatkan perilaku seperti itu, orang tuanya malah ditahan karena pemukulan,” ungkap Rina.(wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *