Jamu Tita Gendong. (Berby/Times Kaltim)
Timeskaltim.com, Samarinda – Salah satu herbal tradisional, identik dengan ramuan yang secara empiris atau turun temurun, dan banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai pengobatan tradisional adalah Jamu.
Jamu merupakan minuman herbal tradisional yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia selama berabad-abad, yang kini mengalami transformasi modern di tangan Yulita Suherlin.
Melalui inovasi dan kecakapannya, Yulita berhasil menjadikan Jamu Tita Gendong sebagai produk yang diminati baik di dalam maupun luar negeri. Bahkan, Yulita mampu mendobrak spekulasi miring jamu sebagai minuman kuno menjadi sebuah minuman kekinian.
Perempuan asal Surabaya itu, memulai petualangan bisnisnya di Ibu Kota Kalimantan Timur setelah memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus pada keluarganya.
Kecintaannya pada jamu mendorongnya untuk meracik sendiri minuman tersebut, terutama karena sulitnya menemukan jamu yang sesuai dengan seleranya di kota ini.
“Awalnya saya hanya ingin memenuhi kebutuhan pribadi karena kesulitan menemukan jamu yang cocok di Samarinda. Tapi kemudian, saya melihat peluang untuk memperkenalkan jamu kepada lebih banyak orang,” ujarnya, baru-baru ini.
Berbekal dari resep warisan sang ibu yang telah lama berjualan jamu di Surabaya, Yulita mulai mengembangkan variasi jamu cair yang ramah di lidah, tanpa mengurangi manfaat kesehatan yang terkandung.
Dari hanya satu macam jamu, Yulita terus belajar dan mengembangkan produknya hingga memiliki sepuluh varian jamu cair dan tiga varian jamu instan kering.
“Kunyit asam menjadi produk unggulan kami, namun saya selalu mencoba varian baru untuk memastikan semua orang, termasuk anak-anak, bisa menikmati jamu tanpa harus menghadapi rasa pahit yang sering dihindari,” jelasnya.
Identik dengan kata “Tita Gendong”, ternyata nama usaha Yulita diambil dari gabungan nama Yulita, adiknya Ita, dan ibunda mereka, Suhartati. Bukan sembarang produk, ia berhasil mendongkrak pasar obat tradisional dengan melestarikan tradisi keluarga dalam bentuk yang lebih modern dan dapat diterima generasi sekarang.
Produksi Jamu Tita Gendong dilakukan setiap hari, dengan kapasitas hingga 100 botol per hari sesuai permintaan. Proses produksi ini melibatkan penggunaan lebih dari sepuluh jenis rempah-rempah dalam setiap resepnya, sehingga menghasilkan minuman yang kaya akan manfaat kesehatan.
Yulita tidak sendirian dalam perjalanan bisnisnya. Dengan dukungan penuh dari sang suami, ia mampu mengembangkan jaringan pemasaran yang meliputi swalayan, hotel, dan restoran, bahkan merambah hingga ke luar negeri. Kini, Jamu Tita Gendong telah dikenal di Tenggarong, Jawa, bahkan hingga negara Singapura.
“Saya selalu bermimpi jamu ini bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, dan sekarang mimpi itu mulai terwujud. Kami bahkan sudah merambah pasar internasional,” ungkapnya dengan bangga.
Dengan modal awal hanya Rp 100.000, Yulita berhasil meraih berbagai pencapaian, termasuk dukungan dari Dinas Kesehatan Provinsi sejak tahun 2019.
Produk-produk Jamu Tita Gendong, mulai dari jamu cair hingga instan, kini dijual dengan harga antara Rp 5.000 hingga Rp 50.000, membuatnya terjangkau bagi berbagai kalangan.
“Jangan hanya bermimpi, tapi lakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi itu,” pesannya kepada para calon pengusaha.
Di tengah arus modernisasi, Yulita Suherlin membuktikan bahwa warisan tradisi tidak hanya dapat bertahan tetapi juga berkembang.
Melalui kerja kerasa dan semangat juangnya, sosok wanita inspiratif itu mampu membawa jamu sebagai minuman tradisional Indonesia ke kancah internasional, menjadikannya sebagai minuman yang tak lekang oleh waktu. (Bey)












