Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Opini

Ketika Harga Kedelai Naik, Dapur Rakyat yang Menanggung

5
×

Ketika Harga Kedelai Naik, Dapur Rakyat yang Menanggung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kedelai. (Istimewa)

Timeskaltim.com, Opini – Kenaikan harga kedelai kerap terlihat sebagai angka statistik dalam laporan ekonomi. Grafik bergerak, angka berubah, lalu perhatian bergeser ke isu lain. Namun bagi perajin tahu dan tempe, lonjakan itu bukan sekadar data, melainkan tekanan nyata yang dirasakan setiap hari.

Di balik dapur-dapur sederhana, perubahan harga bahan baku langsung memengaruhi keberlangsungan usaha. Tempe dan tahu, yang selama ini menjadi sumber protein terjangkau bagi masyarakat, kini ikut terdampak. Kenaikan harga kedelai membuat keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual semakin sulit dijaga.

Beberapa pelaku usaha memilih menaikkan harga, meski berisiko kehilangan pembeli. Sebagian lain mengambil jalan bertahan dengan mengecilkan ukuran produk. Ada pula yang terpaksa mengurangi produksi karena tidak lagi mampu menutup biaya operasional.

Dampaknya merambat hingga ke konsumen. Tempe yang dulu tebal kini terasa lebih tipis, tahu yang biasa hadir dalam jumlah cukup mulai berkurang. Perlahan, perubahan kecil ini menggeser pola konsumsi masyarakat, terutama di kalangan menengah ke bawah.

Fenomena ini bukan berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar dan berlapis. Ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai menjadi salah satu akar utama. Selama pasokan masih bergantung pada negara lain, harga dalam negeri akan selalu mengikuti dinamika global.

Gejolak internasional turut memperkeruh situasi. Gangguan rantai pasok, kenaikan biaya distribusi, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor yang memperkuat tekanan harga. Di sisi lain, kondisi cuaca di negara produsen juga memengaruhi produksi global, yang berujung pada terbatasnya pasokan.

Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha kecil berada di posisi paling rentan. Mereka tidak memiliki cukup ruang untuk menyerap kenaikan biaya dalam jangka panjang. Sementara itu, masyarakat sebagai konsumen harus menyesuaikan diri dengan harga yang terus berubah.

Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi menekan keberlanjutan usaha kecil sekaligus mengurangi akses masyarakat terhadap pangan bergizi dengan harga terjangkau. Dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial.

Karena itu, persoalan kedelai tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan jangka pendek. Diperlukan langkah strategis untuk memperkuat produksi dalam negeri. Dukungan terhadap petani lokal, kepastian harga di tingkat hulu, serta kebijakan yang mendorong kemandirian pangan menjadi kunci.

Pada akhirnya, isu kedelai bukan sekadar soal komoditas. Ia berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dari dapur sederhana hingga meja makan keluarga, kenaikan harga ini menjadi pengingat bahwa stabilitas pangan adalah fondasi penting dalam menjaga kesejahteraan bersama. (Rob/Pii)