Timeskaltim.com, Kukar – Diantara keramaian dan gemerlapnya rangkaian acara Erau Adat Pelas Benua, yang setiap tahun diselenggarakan di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Salah satu tradisi tua yang masih bertahan adalah “Beseprah”. Sebuah prosesi makan bersama yang sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Kutai.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, tradisi ini kini mengalami dekonstruksi makna yang mengkhawatirkan.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh, seorang Pengamat Budaya dan Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Mulawarman (UNMUL) Samarinda, Aji Qamara Hakim.
Ia dengan tegas menyatakan bahwa esensi beseprah di masa kini telah jauh berubah.
“Beseprah adalah tata cara makan orang Kutai di masa lalu. Mereka duduk bersila di lantai, menggelar kain sebagai alas, dan makan bersama tanpa memandang gender. Baik laki-laki maupun perempuan duduk bersama menikmati hidangan yang dihidangkan,” jelas Qamara saat ditemui Timeskaltim.com dikediamannya pada, Minggu (22/09/2024).
Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan modernisasi yang tak terbendung, makna mendalam dari tradisi ini perlahan memudar.
Menurut Qamara, yang kini terjadi dalam acara adat Erau kegitan makan bersama tersebut bukanlah beseprah yang sebenarnya.
“Saya lebih suka menyebutnya Bebungkus, bukan Beseprah,” tuturnya.
Beseprah Lebih dari Sekadar Makan Bersama
Pada masa lalu, beseprah bukan sekadar makan bersama. Tradisi ini mengandung filosofi kebersamaan dan kesetaraan, mereka duduk di tempat yang sama, menikmati makanan yang sama, dan lebih dari itu berbagi cerita serta tawa.
Lebihnya, posisi duduk pun memiliki arti. Mereka yang duduk di pojok, biasanya orang yang dituakan, menjadi simbol kehormatan dan kebijaksanaan. Namun, di zaman yang serba modern ini, tradisi tersebut perlahan tergerus.
“Di daerah perkampungan atau pedalaman, mungkin beseprah, masih berlangsung seperti dahulu, tetapi di Tenggarong, khususnya dalam acara Erau Adat, konsep itu sudah berubah. Orang-orang lebih memilih mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam kantong plastik, dibanding duduk dan makan bersama,” jelasnya.

Qamara menilai, fenomena ini sebagai bentuk dekonstruksi makna budaya yang sangat disayangkan. Seharusnya, beseprah menjadi momen bagi masyarakat untuk menjaga kebersamaan, bukan sekadar acara mengambil makanan untuk dibawa pulang.
“Dulu, beseprah adalah tentang berbagi makanan, berbagi cerita, berbagi tawa. Sekarang, semua itu hilang,” ungkapnya.
Erau dan Tantangan Pelestarian Tradisi
Erau, sebagai festival budaya tahunan di Kukar, merupakan upaya penting untuk melestarikan tradisi lokal. Akan tetapi, tanpa edukasi dan pemahaman yang tepat, tradisi seperti beseprah hanya akan menjadi formalitas tanpa makna.
Qamara berharap, pihak-pihak terkait dalam penyelenggaraan acara dapat lebih tegas dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang esensi beseprah yang sebenarnya.
“Beseprah harus tetap beseprah, bukan bebungkus,” tegasnya.
Ia menginginkan, agar tradisi ini kembali kepada akar budaya yang penuh dengan makna kebersamaan. Bukan hanya sekadar makan bersama, tapi duduk bersama, berbicara, dan menjaga nilai-nilai persaudaraan di antara sesama warga.
Harapan untuk Masa Depan
Di tengah gempuran modernisasi, Qamara tetap optimis bahwa tradisi ini masih bisa diselamatkan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memperkenalkan kembali konsep asli beseprah, kepada generasi muda.
“Semoga, pada Erau mendatang kita kembali melihat beseprah yang sebenarnya, sebuah perayaan kebersamaan yang tak hanya mengisi perut, tetapi juga mengisi hati,” pungkasnya. (Rob/Wan)












