Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Opini

TANPA TANDA JASA?

984
×

TANPA TANDA JASA?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Topan Setiawan.(*)

IYA, SEMPAT TERLINTAS dalam benak saya. Sebagai murid yang pernah, merasakan embun bagi di tengah kehausan. Mengapa, para guru di seluruh Indonesia. Di klaim dengan pernyataan demikian?

Seolah-olah, ini sudah hal lumrah. Mereka mengajar dan dilupakan. Bahkan, saya sempat berfikir. Dari buah tangan keriputnya. Seorang presiden, DPR, kepala dinas, hingga lahirnya sosok Nadiem Anwar Makarim Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Tetap saja, tak terlepas. Bahwa kita lahir dari sentuhan lembut mereka.

Bagi saya menjadi guru itu sangat sulit. Sungguh. Saya tersadar kembali. Ketika telah, memperistri seorang wanita hebatku. Yang kebetulan, berofesi sebagai seorang guru Sekolah Dasar (SD). Ia harus menyusun perlengkapan mengajar. Bahkan, laporan administrasi (modul ajar, absensi penggerak, perangkat pengajaran, Promes, Prota dan masih banyak lagi) hingga dikerjakan larut malam. Pun itu setelah, menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya. Bangun kembali, di fajar hari. Berulang kali, aktifitas itu, saya lihat sepanjang hari. 

Ketika, saya melewati di salah satu sekolah. Di kota Samarinda. Sembari, mengantarkan istri saya, berangkat untuk mengajar. Terbelesit, tak sengaja mendengar. Sepenggal lirik lagu, yang dinyanyikan anak-anak. Begini: Engkau, patriot pahlawan bangsa. Tanpa tanda jasa. Sontak. Alangkah terkejutnya saya pribadi. Semerawut, itu aktifitas yang dilalui istri saya sepanjang harinya. Sebagai seorang guru. Apalagi, saat ini tengah mengandung anak pertama kami. Betapa, tak terbayangkan, betapa sulitnya. Namun, sepenggal lirik lagu tersebut. Jadi doktrin yang terngiang-ngiang di benak saya. Kok bisa?

Pertama, izinkan saya mengucapkan Selamat Hari Guru untuk seluruh pendidik di Nusantara. Apapun yang diharapkan oleh para pendidik di negeri ini, semoga bisa segera mereka raih. Apapun yang terbaik. Untuk pendidikan di negeri ini, semoga bisa segera kita raih.

Saya tak ingin berbicara banyak mengenai kondisi pendidikan di Indonesia. Saya yakin, kita semua tahu gambaran umumnya. 

Menjadi guru. Adalah memberikan dan mengabdikan kehidupan. Untuk, senantiasa berbagi ilmu pengetahuan. Kepada anak didiknya, seringkali. Juga menjadi guru bukan hanya memerlukan sebatas kemampuan mengajar. Dan memahami muatan materi yang akan disampaikan.

Dalam hal mengajar misalnya, menjadi guru artinya, harus mampu bersabar menghadapi berbagai karakter anak didik/muridnya. Yang, beragam yang tak jarang justru menguras tenaga guru secara psikis. Sebab, menjadi guru adalah sosok yang penuh keuletan dan kesabaran.

Apalagi, pernah saya membaca. Di harian Kompas bulan lalu. Seorang guru dilaporkan ke aparat penegak hukum. Hanya karena, memarahi anaknya karena, ketahuan merokok. Tak sampai hati, bahkan, ada yang dibacok oleh muridnya sendiri. Karena, tak terima ditegur ketika tertidur di kelasnya.

Miris sekali. Para guru Indonesia, harus menghadapi karakter anak. Yang tak menentu, setiap zamannya. Mereka tidak salah. Tetapi, moral para anak yang kian tergerus. Oleh perkembangan teknologi melalui, sebagai gawai miliknya.

Belum lagi, beberapa tempo lalu, sempat viral berita mengenai seorang guru yang tak digaji selama kurang lebih 11 bulan. Berangkat dari berita inilah, saya mulai faham bahwa guru di Indonesia kini tak hanya mendapatkan julukan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” tetapi juga “Pahlawan Tanpa Balas Jasa”. Saya sadar bahwa, apa yang selama ini saya pikirkan ternyata tak sesempurna itu. Di luar sana, mungkin lebih banyak lagi guru yang bernasib demikian.

Wajar saja jika fokus mereka beralih kepada Hak dan bukan lagi sekadar menjalankan Kewajiban semata. Tanpa, diberi balas jasa (gaji). Semulia-mulianya, sebuah pekerjaan yang memberikan pelayanan atau jasa seperti guru, mereka tetaplah manusia biasa, yang membutuhkan pendapatan. Untuk, keberlangsungan hidup sehari-hari.

Apapun motivasimu, menjadi seorang tenaga pendidik, entah karena uang atau memang dedikasi, lakukan kewajibanmu setulus mungkin dan perjuangkan hak mu sekeras mungkin. 

Kita sudah tahu, Negeri ini cukup “tuli” mendengar rintihan kalian, wahai para guru yang tak terbalaskan jasanya. Kami sayang kalian.

*Penulis merupakan Redaksi Times Kaltim sekaligus Mahasiswa S2 Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda.

Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Timeskaltim.com. Mari bergabung di Grup Telegram dan Youtube, caranya klik link https://t.me/timeskaltim (Telegram) dan https://www.youtube.com/@Timeskaltim (Youtube), kemudian join & subscribe. Anda harus install aplikasi tersebut terlebih dulu di ponsel.