Daerah

Sebut Pengetap BBM Kian Menjamur, Kades Bumi Etam Bakal Ambil Langkah Preventif

1365
×

Sebut Pengetap BBM Kian Menjamur, Kades Bumi Etam Bakal Ambil Langkah Preventif

Sebarkan artikel ini
Suasana Antrean di salah satu SPBU di Kutim. Terlihat, beberapa kendaraan diduga para pengetap.(Muhammad Hasbi/Times Kaltim)

Timeskaltim.com, Kutim – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Desa Bumi Etam, Kecamatan Kaubun, Kutai Timur (Kutim) selalu tampak ramai. Dengan kendaraan, yang tengah mengantre mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Antrean panjang itu, diduga karena ditenggarai maraknya para pengetap, yang selalu ada disaat Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis pertalite itu tersedia di SPBU.

Menurut salah satu masyarakat Desa Bumi Etam, yang tak ingin disebutkan namanya itu (34) mengatakan, para oknum pengetap tersebut sangat merugikan masyarakat. Ia mengeluhkan, setiap kali BBM jenis pertalite ini tersedia. Selalu dipenuhi oleh para oknum pengendara, yang diduga adalah para pengetap.

“Kesal juga kita lihat setiap kali pertalite ada pasti banyak juga pengetapnya”, keluhnya saat diwawancarai wartawan Timeskaltim.com, pada Kamis (20/06/2024) siang.

Ia juga mengatakan bahwa, para pengatap itu tak hanya berasal dari masyarakat Kaubun saja. Melainkan, ada pula yang berasal dari luar wilayah Kaubun. Diantaranya, Kecamatan Kaliorang.

Sejauh ini menurutnya, para pengetap itu menggunakan motor dengan tanki yang telah dimodifikasi. Sehingga, bukan lagi berasal dari setelan standar pabrik. 

“Coba lihat itu motornya Kawasaki KLX tapi tankinya besarnya bukan main, bisa dipakai isi sampai belasan liter itu, habis isi nyedot dulu, nanti dia masuk lagi begitu terus pokoknya, sampai habis stok pertalite itu,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Bumi Etam, Laurensius Martin menjelaskan bahwa, BBM jenis pertalite ini merupakan subsidi dari pemerintah untuk semua masyarakat.

“Kita tau bersama bahwa pertalite inikan barang subsidi yang semua masyarakat berhak mendapatkan nya”, jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa, akhir-akhir ini BBM hijau itu, diedarkan lagi oleh para penjual yang tidak memiliki izin jual. Sehingga, harganya pun relatif sangat tinggi dan tidak sesuai dengan harga penjualan dari standar pemerintah.

“Kasihan masyarakat karena harga jualnya sudah pasti berbeda dan mahal, kalau di SPBU itu harganya Rp.10.000 sedangkan harga eceran bisa sampai Rp.15.000 inikan miris ya”, urainya.

Diakhir ia juga menegaskan bahwa akan mengupayakan semaksimal mungkin langkah-langkah preventif dengan pihak-pihak terkait. Baik melalui pihak kepolisian dan juga masyarakat. Khususnya Desa Bumi Etam. Agar dapat mengawasi kegiatan di SPBU agar terhindar dari para pengetap ‘nakal’.

“SPBU yang ada di Kecamatan Kaubun. Khusunya, Desa Bumi Etam itu pada dasarnya tidak untuk mengakomidir para pengetap, tetapi membagi kuota BBM kepada seluruh masyarakat secara merata”, pungkasnya. (Has/Wan)

error: Content is protected !!