Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Diskominfo Kukar

Ritual “Buang Telur” di Sungai Mahakam, Simbol Adab Tradisi Ngulur Naga

1268
×

Ritual “Buang Telur” di Sungai Mahakam, Simbol Adab Tradisi Ngulur Naga

Sebarkan artikel ini

Tim Redaksi Timeskaltim.com dan Mediakata.com mengikuti tradisi Ngulur Naga bersama kerabat kesultanan Kukar menuju Kutai Lama Kecamatan Anggana, Minggu (1/10/2023) pukul 13.30 Wita.(Roby/Times Kaltim)

Timeskaltim.com, Kukar –  Tradisi Ngulur Naga merupakan, rangkaian acara penutup pada Kebudayaan Khas Kutai Kartanegara (Kukar) yang digelar tahunan. Yakni Budaya Erau. Namun, Ada yang menarik dari tradisi tersebut. 

Dalam perjalanannya menuju Desa Kutai Lama Kecamatan Anggana, Kukar menggunakan kapal angkutan. Para ritualis kesultanan Kukar akan menabur sejumlah telur di tengah Sungai Mahakam. 

Berdasarkan informasi di lapangan bersama redaksi Timeskaltim.com dan Mediakata.com, ritual tersebut menandakan penghormatan kepada para leluhur. Sebelum memasuki wilayah Desa Kutai Lama. Yang menjadi tujuan akhir tradisi Ngulur Naga itu dilakukan.

Pengantaran naga ke Kutai Lama, setiap tahun terus menerus dilakukan. Dengan tujuan sebagai menandakan simbolitas cerita dari masa lampau. Tentunya, turun-temurun terus dilestarikan.

Pembuangan telur ini juga, bagian dari proses pengantaran naga sampai ke Desa Kutai Lama. Hal tersebut juga bermakna sebagai simbol adab sopan-santun ketika melewati Sungai Mahakam.

“Pembuangan telur merupakan simbolik pamit atau permisi dalam artian bahasa itu seperti numpang lewat,” jelas Bidang Sakral Kesultanan Kutai, Aji Awang Imanuddin di Kapal pada saat proses pembuangan naga pada, Minggu (01/10/2023) pukul 13.20 Wita.

Pembuangan telur di Sungai Mahakam dilakukan sebanyak 7 kali. Yakni Pertama, berlokasi di Tepian Batu, Kedua Buntut Pulau, ketiga Luah Gaga, Keempat Gunung Lipan, Kelima Tepian Aji, Pulau Kambing dan terakhir pada saat pembuangan naga di Kutai Lama.

Selain itu dirinya menegaskan, tujuan dari kegiatan ini adalah mengulang peristiwa, sejarah yang dahulu ditinggalkan para leluhur. Sebagai pengingat kepada masyarakat Kukar punya kekayaan kebudayaan untuk dilestarikan.

Disisi lain, Aji Awang Imanudin, menyampaikan sebuah pesan kepada warga Kukar. Agar selalu menjaga, melestarikan, serta menyebarluaskan kebudayaan yang dimiliki saat ini. 

“Khusus warga Tenggarong, mengingat kita ini kerajaan tertua di Indonesia, perlu kita lestarikan, kita tingkatkan, dan bila perlu kita sebar luaskan, inilah adat Kerajaan Kutai yang sebenarnya,” pungkasnya. (Adv/Rob/Wan)