Oleh: Zukhrizal Irbhani.
Di pinggiran kabupaten Kutai Timur ada sehamparan tanah luas yang di kenal dengan kecamatan Kaliorang. Sawit ,padi, dan pohon pisang tumbuh subur di sana, galian tambang batu bara juga teng tletek dimana-mana. Pasir pantai juga mengitari tepian dari daerah ini. Sungguh kecamatan yang kaya. Tidak mungkin ada orang miskin di sana jika pengolahan sumber daya alam ditujukan untuk penduduk di sana. Bahkan seharusnya tidak mungkin ada lubang di jalan poros kalau para pengolah SDA dan para pengambil kebijakan peduli dengan daerahnya.
Kecamatan ini disebut-sebut memiliki letak geografis yang sangat strategis. Lautnya berada pada lintasan alur laut kepulauan II (ALKI II) yang merupakan lintasan alur dagang internasional. Gubernur Awang Faroek melihat keunggulan wilayah tersebut. Sehingga pada tahun 2014 di mulailah pembangunan pelabuhan dengan taraf internasional (katanya) tepatnya di desa Maloy. Sekian tahun proyek itu berjalan berkilo-kilo jalan beton penghubung ke arah pelabuhan dibangun, gedung-gedung urusan pelabuahan juga didirikan. Hingga pada tahun 2019 hal tersebut pun menarik kabar hangat di tahun 2019. Seiringan dengan wacana pembangunan ekonomi nasional yang digaungkan oleh presiden Jokowi proyek tersebut diresmikan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) dengan nama Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK).
Sesuai aturan harusnya proyek yang sudah di nobatkan sebagai KEK memiliki batas tiga tahun dalam pengerjaannya. Dan uniknya proyek prlabuhan ini sudah hampir sembilan tahun pengerjaanya tak kunjung usai padahal harusnya sudah bisa dioperasikan pada Mei 2022. Malah yang ada jalan penghubungnya minta perbaikan terus dan kabarnya proyek ini belum terbit analisis dampak lingkungannya (AMDAL). Kok iso yo? Tentu ini jadi pertanyaan besar yang harus bisa dipertanggung jawabkan. Karena bukan sedikit uang rakyat yang sudah dikucurkan untuk proyek itu. Bagaimana mungkin bangunan jalan beton belum dipakai sudah amblas terus. Apakah asal-asalan bikinya? Apa tidak kompeten kontraktornya? Apa tidak diawasi ya proyeknya?
Bupati Kutai Timur, Gubernur Kalimantan Timur, Presiden Indonesia. JAWAB.
DPRD Komisi III Kalimantan Timur. BANGUN PAK! BANYAK KERJAAN.
Jangan sampai masyarakat setempat hanya diberi harapan palsu. Katanya bapak-bapak tua berdasi di atas : Itu pelabuhan sekala internasinal,nanti ribuan tenaga kerja bakal di butuhkan di situ, nanti masyarakat setempat punya peluang kerja yang luas di situ, nanti segala macam industry bakal maju di situ, nanti ekonomi bangsa maju, nanti-nanti dan nanti.
Walau bagaimanapun masyarakat kita ini pandai bersyukur. Setidaknya masyrakat Kaliorang dan sekitarnya punya tempat penyaluran hobi baru. Yaitu, balapan liar dan mancing. Jalan bagus walau masih putus-putus bisa buat balapan drag racing amatiran sama tempat mancing untuk melepaskan kejenuhan setelah berhari-hari panen sawit atau gali batu bara. Toh, seenggaknya bangunan pelabuhan itu sudah jadi kantin tempat ngopi pengunjungnya.
*Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman.
Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang).












