Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Nasional

Kecamuk Dualisme PKB Kukar, Ini Tanggapan Pengamat Politik Unikarta

343
×

Kecamuk Dualisme PKB Kukar, Ini Tanggapan Pengamat Politik Unikarta

Sebarkan artikel ini

Perseteruan Konflik dualisme PKB Kukar perlu adanya pertemuan secara internal untuk membangun persatuan.(Ilustrasi)

Timeskaltim.com, Kukar – Kecamuk konflik dualisme kepimpinan di PKB Kutai Kartanegara (Kukar) menyita banyak perhatian elemen masyarakat. Hal tersebut disorot langsung oleh, Pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Zulkifli.

Ia berpendapat, sangat disayangkan adanya konflik dan dualisme kepemimpinan di PKB Kukar.

“Puji dan Siswo sudah membesarkan PKB Kukar. Kalaupun nanti mereka loncat ke partai lain, ini kan sayang sekali. Mereka sudah membesarkan PKB, sudah punya jejaring bagus, tapi kemudian tiba-tiba loncat ke partai lain kan sangat disayangkan,” katanya dikutip melalui media Beritaalternatif.com, Senin (3/10/2022).

Pertemuan Islah PKB Kukar

Dalam hal ini, Ia berpesan agar, kedua belah pihak melakukan islah. Caranya, menginisiasi pertemuan serta membuat surat pernyataan bersama dalam rangka kembali membangun persatuan untuk memajukan PKB Kukar.

“Politik itu bukan bicara siapa yang lebih kuat. Tapi, seni menaklukkan orang lain sehingga yang dulu berkonflik menjadi teman,” terangnya.

Dekan Fisipol Unikarta ini mengatakan, konflik berkepanjangan di internal PKB Kukar akan memperpanjang ongkos politik untuk memperbaiki citra partai tersebut di publik Kukar.

“Yang dikhawatirkan ada pihak ketiga yang memanfaatkan ini, sehingga ke depan mereka juga kasihan,” ujarnya.

Usaha menyatukan kedua belah pihak yang berseteru tersebut, sambung dia, sejatinya dapat dilakukan lewat Mahkamah Partai. Namun, langkah ini juga membutuhkan energi dan finansial yang cukup besar.

“Kalau ada konflik di tingkat daerah, biasanya di pusat itu ada negosiasi. Ini menghabiskan finansial yang cukup banyak. Saya melihat di beberapa partai seperti itu, sehingga tembak sana, tembak sini, kemudian lelah. Kalaupun nanti 2024 harus bertarung lagi, finansialnya habis hanya untuk ngurusin internal partai saja,” jelasnya.

Kerugian PKB Kukar

Apabila konflik internal dan dualisme kepemimpinan PKB Kukar terus berlanjut hingga mengakibatkan Puji dan para loyalisnya memutuskan untuk pindah ke partai lain, maka hal itu akan membawa kerugian besar bagi PKB Kukar.

Meski PKB merupakan partai yang memiliki basis massa dari warga Nahdlatul Ulama (NU), kata Zulkifli, tak semua anggota dan pengurus organisasi tersebut akan memilih PKB.

Ia menyebutkan, Kukar mempunyai perbedaan yang cukup besar dengan Jawa Timur, yang mana warga NU memiliki loyalitas yang sangat tinggi terhadap PKB.

Kata dia, faktor keagamaan memang memiliki pengaruh dalam kontestasi politik di Kukar, namun faktor finansial juga tak dapat diabaikan.

“Loyalitas masyarakat kita ini pada partai bisa dihitung dengan jari. Untuk mendapatkan suara juga tetap butuh ‘amunisi’ yang kuat,” katanya.

Dia menjelaskan, Puji dan Siswo Cahyono, yang merupakan punggawa utama PKB Kukar, memiliki rekam jejak cukup panjang dalam dunia perpolitikan Kukar.

Sebelum keduanya menjadi pengurus PKB Kukar, mereka pernah menjadi politisi Hanura. Ketika Puji dan Siswo menakhodai Hanura, mereka membawa partai tersebut meraih kursi di parlemen Kukar.

“Sebelumnya, Hanura ini partai non-parlemen juga. Setelah mereka bergabung, Hanura dapat kursi di parlemen Kukar,” bebernya.

PKB Kukar, sambung dia, telah dibangun dengan susah payah oleh Puji, Siswo, beserta loyalis mereka. Zulkifli sangat menyayangkan apabila mereka harus meninggalkan partai tersebut hanya karena konflik yang bernuansa politik disebabkan faktor suka dan tidak suka (like and dislike).

“Jangan sampai ini berkepanjangan. Kan sayang. Partai yang sudah dibangun berdarah-darah di Kukar, kemudian harus pecah hanya karena politik elite, yang mengorbankan si A, B, dan seterusnya hanya karena like and dislike,” ungkapnya.(Wan)