Bayaran Pemulung Tak Setimpal Dengan Jasa Kelestarian Bumi

Oleh: Melati Novia Sari.(Dok/Pribadi)

Kurangnya edukasi mengenai pengelolaan sampah adalah penyebab buruknya manajemen sampah di Indonesia. 

Kebanyakan masyarakat Indonesia, membuang sampahnya tanpa disortir antara sampah organik dan anorganik. Serta, sampah yang bisa di daur ulang maupun tidak bisa di daur ulang. 

Hal tersebut menjadi pemicu dari kerusakan lingkungan. Namun, masalah tersebut dapat dibantu oleh para pemulung. Ketika masyarakat membuang sampah tanpa disortir, pemulung akan membantu mengambil sampah yang sulit terurai dan mendapatkan penghasilan dari sampah-sampah tersebut.

Sayangnya masih banyak orang yang menganggap remeh pekerjaan pemulung. Padahal pemulung menjadi salah satu pekerjaan yang bermanfaat bagi bumi kita.

Pemulung senang mengambil sampah yang menjadi penyebab dari penumpukan sampah plastik, seperti botol bekas minuman, gelas bekas minuman dan sebagainya yang bersifat sekali pakai. Sampah sekali pakai disenangi oleh pemulung karena sampah-sampah tersebut memilliki nilai ekonomi yang tinggi. Walaupun terkesan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tetap saja penghasilan dari para pemulung tidak setinggi yang kita bayangkan.

Dilansir dari Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik Mesin tahun 2012 bahwa harga dari botol dan gelas plastik hanya Rp. 3500,- per kilogram. Untuk mengumpulkan botol dan plastik tersebut, diperlukan waktu berhari-hari serta volume yang besar agar dapat memberikan penghasilan yang besar pula. Selain itu, dalam sebuah skripsi salah satu mahasiswa Universitas Negeri Semarang, menyebutkan, pendapatan pemulung rata-rata berkisar Rp 30.000,- per hari dengan waktu 8 jam kerja.

Apabila harga plastik dan rata-rata pendapatan pemulung tersebut juga terjadi di Kalimantan Timur (Kaltim). Maka, tentunya kehidupan pemulung tidak dapat dikatakan layak. Sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kebutuhan Hidup Layak selama sebulan di Kalimantan Timur pada tahun 2015 adalah sebesar Rp. 2.026.126,-. 

Jika pendapatan pemulung di Kalimantan Timur sebesar Rp. 30.000,- per hari, maka penghasilan tersebut tidak bisa mencukupi kehidupan yang layak bagi para pemulung.

Peran dan jasa pemulung bagi dunia sampah sangat penting untuk mengurangi pencemaran lingkungan bagi bumi kita. Maka dari itu, setiap orang perlu mengubah pandangannya terhadap pekerjaan pemulung yang terkesan kotor dan jorok. 

Para pemulung rela mencari sampah-sampah plastik di tumpukan sampah yang masih tercampur untuk  memenuhi kehidupannya walau masih belum bisa dikatakan layak. Maka dari itu, diperlukan bantuan pemerintah untuk para pemulung agar dapat meningkatkan taraf hidup pemulung.

Selain itu, kita bisa membantu para pemulung dengan menyortir sampah kita agar memudahkan pemulung untuk mengambil sampah plastik tanpa harus menghambur tempat sampah.(*/wan)

*Penulis : Melati Novia Sari (Mahasiswi Prodi Bimbingan Konsling Islam UINSI Samarinda).
Penyunting: Topan Setiawan