Anak Rentan Jadi Korban Dan Pelaku Kekerasan Seksual, Pola Asuh Orang Tua Perlu Ditingkatkan

Selain rentan sebagai korban kekerasan seksual, anak juga rentan sebagai pelaku. (Ist)

Timeskaltim.com, Samarinda – Tak dapat dimungkiri kasus kekerasan seksual juga kerap kali dialami oleh anak-anak sebagai korban. Kendati begitu, ironisnya terjadi fakta pula bahwa anak-anak di bawah umur pun berperan sebagai pelaku. 

Hal itu disampaikan langsung oleh Pejabat Fungsional Koordinator Penanganan Kasus Anak di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) Samarinda, Sahidin Ahmad. Dia mengakui, banyak korban kekerasan seksual menimpa anak-anak yang masih berusia sekolah. Kebanyakan dari SMP. 

“Tapi ingat, kekerasan seksual ini anak pun bisa menjadi pelaku. Sudah beberapa kali kami menitip anak berhadapan dengan hukum (ABH) ke salah satu panti sosial di bawah naungan Pemprov Kaltim,” jelas Sahidin, Selasa (1/11/2022).

Salah satu contoh kasus yang pernah terjadi adalah pelaku masih berusia 12 tahun dan korban berusia 4 tahun. Dari situ, Sahidin mengingatkan bahwa kasus kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja. Tak peduli usia tua atau muda. 

“Rata-rata pelaku kekerasan seksual itu, 80-90 persen itu orang terdekat. Minimal orang yang sudah lama dikenal seperti tetangga begitu,” tambah dia lagi. 

Jika dicari tahu lebih lanjut terkait latar belakang masalah terkait sampai anak bisa jadi pelaku, tentu bersinggungan erat dengan lingkungan keluarga. Di mana, keluarga diketahui sebagai pondasi utama untuk membangun karakter seorang anak. Namun sayangnya, anak-anak yang menjadi pelaku tidak mendapat pola asuh yang tepat dari orangtuanya. 

“Anak itu kan perlu tahu batasan-batasan. Anak kalau sampai berbuat kesalahan, berarti tidak tahu batasan. Akhirnya dia melanggar batas itu,” lanjutnya lagi. 

Faktor lain, karena berkembang pesatnya arus teknologi dan internet yang selalu mudah diakses. Dia menilai, situs pornografi juga mudah didapat oleh anak-anak, secara sengaja maupun tidak sengaja. 

“Kalau dari keluarganya sendiri tidak ada parenting, maka anak akan sulit tahu batasan. Apalagi selama pandemi kemarin kan ponsel itu selalu di tangan,” tandasnya. (Gan/Adv/DKP3A Kaltim)