Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Daerah

Bukan Sekadar Sunah, Konsumsi Kurma Saat Berbuka Terbukti Secara Medis, Cegah Lonjakan Gula Darah

1
×

Bukan Sekadar Sunah, Konsumsi Kurma Saat Berbuka Terbukti Secara Medis, Cegah Lonjakan Gula Darah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi manfaat kurma. (Alodokter)

Timeskaltim.com, Lifestyle – Di antara deretan takjil saat azan magrib berkumandang, kurma hampir tak pernah absen. Buah mungil berwarna cokelat itu seperti simbol tak tertulis Ramadan, hadir lebih dulu sebelum segelas air putih diteguk.

Selama ini, kurma identik dengan rasa manis dan energi cepat. Cukup makan dua atau tiga butir, tubuh terasa lebih segar setelah hampir 12 jam berpuasa. Namun di balik kesederhanaannya, kurma menyimpan cerita ilmiah yang jarang dibahas.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia menguji lima varietas kurma yang banyak dikonsumsi, yakni Ajwa, Sukari, Medjool, Khalas, dan Golden Valley. Hasilnya menunjukkan seluruh varietas tersebut mengandung Beta-karoten, senyawa antioksidan dari kelompok karotenoid.

Beta-karoten berperan membantu tubuh menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel. Dengan kata lain, saat berbuka dengan kurma, tubuh tidak hanya mendapatkan lonjakan energi dari gula alaminya, tetapi juga asupan antioksidan yang bekerja melindungi sel secara perlahan.

Selama Ramadan, ritme tubuh memang berubah. Waktu makan berpindah ke malam hari, jam tidur sering bergeser, dan aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Kondisi ini dapat memicu stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh.

Dalam pengujian laboratorium, tiap varietas kurma menunjukkan karakter kandungan yang berbeda. Golden Valley tercatat memiliki kadar Beta-karoten tinggi pada jenis ekstrak tertentu, sementara Khalas menunjukkan angka tertinggi pada ekstraksi non-polar.

Temuan ini memberi gambaran bahwa memilih kurma bukan hanya soal rasa atau tekstur. Ada komposisi zat aktif yang turut berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh selama pola hidup berubah di bulan puasa.

Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan konsumsi kurma sebaiknya dalam jumlah wajar, cukup beberapa butir saat berbuka. Kurma bukan obat mujarab, tetapi bisa menjadi bagian dari pola makan yang lebih terkontrol dan bernutrisi.

Ramadan mungkin membuat banyak hal berubah, namun tradisi berbuka dengan kurma ternyata tidak sekadar warisan budaya. Di balik manisnya, ada proses biologis yang bekerja senyap membantu tubuh beradaptasi.

Sederhana di tangan, kompleks di dalam tubuh. Kurma mungkin kecil, tetapi manfaatnya tak bisa dianggap remeh. (Rob/Pii)

*Sumber : Fakumi Medical Journal*

Judul Artikel : Perbandingan Kandungan Antioksidan Senyawa Beta-Karoten Golongan Karotenoid pada Kurma Ajwa (Madinah), Kurma Sukari (Mesir), Kurma Medjool (Palestina), Kurma Khalas (Dubai), dan Kurma Golden Valley (Mesir)

Penulis: Roby SugiartoEditor: Vivi Jumratun