Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Samarinda

Rudy Mas’ud Soroti Pendangkalan Sungai Mahakam: “Sudah Kritis, Ekonomi Kaltim Tercekik”

202
×

Rudy Mas’ud Soroti Pendangkalan Sungai Mahakam: “Sudah Kritis, Ekonomi Kaltim Tercekik”

Sebarkan artikel ini
Gubernur Provinsi Kaltim, Rudy Mas'ud. (Ist)

Timeskaltim.com, Samarinda — Gubernur Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, menyoroti kondisi kritis Sungai Mahakam yang kini mengalami pendangkalan parah.

Ia menyebutkan bahwa situasi ini bukan hanya memperburuk banjir kronis di Samarinda, tetapi juga menghambat perekonomian dan menurunkan daya saing logistik daerah.

Kepada awak media, ia menyampaikan bahwa tingkat pendangkalan di muara Mahakam sudah berada di fase mengkhawatirkan.

“Permukaan air dangkal atau Shallow Water Level (SWL) di muara Mahakam kini hanya sekitar 3,8 meter. Padahal, untuk kapal komersial, kedalaman ideal jauh di atas angka itu,” ungkap Rudy Mas’ud, pada Senin (27/10/2025).

Lebih lanjut ia menjelaskan, kedalaman tersebut tidak lagi mampu menopang aktivitas transportasi kapal tongkang berukuran besar.

“Kapal 300 feet saja memiliki draft sekitar 4,8 meter. Artinya, dengan kondisi sekarang, kapal seperti itu berisiko kandas kalau memaksa lewat,” jelasnya.

Ia juga menilai, keterbatasan itu menjadi penyebab utama Kaltim tertinggal dalam daya saing logistik, terutama bila dibandingkan dengan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang sudah melakukan pengerukan alur sungai secara rutin.

“Hari ini, Sungai Kapuas di Kalsel bisa dilewati tongkang 400 feet, sedangkan kita di Mahakam hanya bisa 330 feet. Kapasitasnya beda jauh kalau 330 feet hanya mampu 10 ribu ton, yang 400 feet bisa angkut 16 ribu ton,” paparnya.

Perbedaan kapasitas itu, lanjutnya, berdampak langsung terhadap biaya angkut dan efisiensi ekspor komoditas, seperti batu bara dan hasil tambang lainnya.

“Perusahaan besar di Kalsel bisa kirim komoditas lewat sungai, sementara di Kaltim terhambat karena alurnya dangkal. Ini memengaruhi daya saing ekonomi kita,” tegas Rudy.

Pria yang akrab di sapa Harum itu juga menyoroti akar persoalan yang sudah berlangsung lama, yakni ketiadaan pengerukan Sungai Mahakam selama hampir dua dekade.

“Sudah hampir 20 tahun Mahakam tidak pernah dikeruk. Sedimentasi menumpuk dari hulu sampai muara. Jadi wajar kalau sekarang kita alami pendangkalan parah,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia juga menekankan bahwa pengerukan sungai bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut keselamatan warga dan pengendalian banjir.

“Kalau muara dangkal, air hujan dari hulu dan air pasang dari laut sama-sama tertahan. Akibatnya, banjir besar tidak bisa dihindari,” timpalnya.

Diakhir ia memastikan, Pemprov Kaltim akan mendorong langkah konkret untuk mengatasi krisis pendangkalan Mahakam, baik melalui dukungan pemerintah pusat maupun kerja sama lintas instansi. (Has/Bey)