Timeskaltim.com, Kukar – Suasana ruang sidang utama DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) pada Senin pagi, 28 Juli 2025, tampak berbeda dari biasanya. Di tengah agenda Rapat Paripurna Ke-28, sebuah momen sakral sekaligus emosional terjadi.
Akhmad Akbar Haka Saputra, sosok yang selama ini dikenal sebagai vokalis band metal KAPITAL, resmi dilantik sebagai anggota DPRD Kukar sisa masa jabatan 2024-2029, menggantikan almarhum Junaidi melalui mekanisme Pengganti Antar Waktu (PAW) Fraksi PDI Perjuangan.
Proses pelantikan ini dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Kukar, Akhmad Yani, disaksikan oleh Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta perwakilan dari DPRD Samarinda dan DPRD Kalimantan Timur (Kaltim)
Terpilihnya Akbar Haka sebagai PAW merupakan instruksi langsung dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang memberikan kepercayaan besar kepada Akbar untuk melanjutkan perjuangan politik partai di daerah.
Di balik suasana formal prosesi pelantikan, tersimpan perjalanan panjang dan penuh refleksi dari seorang Akbar Haka. Ia menyadari, amanah politik yang kini diembannya bukanlah sekadar pergantian jabatan, melainkan perubahan arah pengabdian.
“Dulu saya pikir, cukup dengan musik saya bisa menyuarakan banyak hal. Tapi ternyata, ada realitas yang jauh lebih dalam ketika kita bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ujarnya seusai pelantikan.
Salah satu pengalaman yang membekas dalam ingatannya adalah ketika ia membantu sebuah masjid di Desa Muara Muntai yang kondisinya memprihatinkan. Masjid tersebut, tempat anak-anak yatim piatu belajar mengaji, tak memiliki atap. Dengan inisiatif pribadi, Akbar mencoba membantu membawa proposal bantuan ke pemerintah daerah.
Namun di sanalah ia memahami realitas bahwa akses dan kanal politik menjadi faktor penting dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.
“Kalau saya datang hanya sebagai vokalis Kapital, mungkin aspirasi itu tidak akan mendapat perhatian yang memadai. Tapi ketika saya datang sebagai kader PDI Perjuangan, suara tersebut lebih didengar. Di situlah saya menyadari, politik bisa menjadi sarana yang efektif untuk menyalurkan kebaikan,” ungkapnya.
Meski demikian, Akbar tidak menutup mata terhadap stigma negatif yang selama ini melekat pada dunia politik, terutama di kalangan generasi muda. Ia mengakui, banyak anak muda yang bersikap apatis, bahkan sinis terhadap politik.
“Banyak yang bilang, ‘apa sih politik? Bullshit’. Tapi setelah saya terjun langsung, justru saya melihat politik bisa jadi saluran terbaik. Ini ibarat dua mata pisau, tergantung siapa yang memegangnya dan untuk apa ia digunakan,” terangnya.
Akbar menegaskan, keputusannya masuk ke dalam sistem politik bukan untuk menanggalkan idealisme, melainkan untuk memperkuat dampak pengabdiannya kepada masyarakat.
Ia memandang, saat ini Kukar berada di persimpangan sejarah, terutama dengan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kaltim. Dalam pandangannya, Kukar tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses tersebut, melainkan harus menjadi bagian penting yang berdaya saing.
“Kita tahu selama ini PAD Kukar sangat tergantung pada sektor Minerba. Tapi tambang itu tidak selamanya ada. Masa senja tambang itu pasti datang. Maka dari itu, kita harus mempersiapkan pondasi ekonomi baru yang berkelanjutan,” jelasnya.
Selain fokus pada isu ekonomi, Akbar juga menaruh perhatian serius pada sektor kebudayaan, yang pas pada posisinya di Komisi empat. Baginya, budaya bukan sekadar warisan yang dilestarikan, melainkan aset strategis yang
harus dioptimalkan untuk memperkenalkan Kukar di tingkat nasional dan internasional.
“Budaya itu bukan sekadar konservasi. Ia bisa menjadi wajah terbaik Kukar di mata dunia. Ini yang akan kami garap ke depannya,” tegasnya.
Dengan pelantikan ini, Akbar Haka memulai babak baru dalam pengabdiannya. Ia percaya, dengan semangat seniman yang peka terhadap realitas sosial, dikombinasikan dengan peran strategis sebagai legislator, dirinya mampu menjadi jembatan yang menghubungkan aspirasi rakyat dengan jalur kebijakan. (Rob/Bey)












