Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialDPRD Kaltim

Agusriansyah Kritik Kurikulum Nasional yang Dianggap Kehilangan Akar Budaya Bangsa

375
×

Agusriansyah Kritik Kurikulum Nasional yang Dianggap Kehilangan Akar Budaya Bangsa

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan. (Istimewa)

Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim) Komisi IV, Agusriansyah Ridwan, menyampaikan kekhawatirannya terhadap arah kebijakan pendidikan nasional yang dinilainya terlalu terpengaruh oleh sistem pendidikan luar negeri, khususnya negara-negara Barat.

Menurutnya, pendekatan yang diambil saat ini belum mencerminkan karakter dan identitas bangsa Indonesia secara utuh.

“Pendidikan kita terlalu banyak meniru pola asing yang belum tentu cocok dengan kondisi sosial dan budaya kita. Kita ini punya sejarah panjang dan kearifan lokal yang mestinya menjadi fondasi dalam menyusun kurikulum,” ujar Agusriansyah, Sabtu (07/06/2025).

Politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menegaskan bahwa kurikulum harus disusun berdasarkan kebutuhan dan kekhasan bangsa sendiri, bukan hanya mengekor pada tren global tanpa proses adaptasi yang bijak.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat jati diri bangsa, bukan justru mengaburkannya.

“Kalau sistem pendidikan tidak berpijak pada nilai-nilai lokal, peserta didik akan merasa terasing di negeri sendiri. Pendidikan itu harus membumi, bukan mengawang-awang mengikuti arus globalisasi,” tuturnya.

Ia pun menyerukan perlunya perombakan kurikulum agar lebih relevan dengan tantangan zaman dan realitas Indonesia. Menurutnya, pendidikan bukan semata-mata soal kemampuan akademik, tetapi juga soal pembentukan karakter dan penanaman nilai moral yang kuat.

Selain isu pendidikan, Agusriansyah juga mengangkat pentingnya peran aktif generasi muda dalam dunia politik. Ia menyayangkan masih minimnya keterlibatan pemuda dalam proses pengambilan kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

“Anak muda tidak boleh diam. Mereka harus jadi bagian dari perubahan. Tanpa partisipasi mereka, kebijakan publik akan kehilangan daya dorong progresif,” ujarnya.

Dirinya menyoroti, pentingnya peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi harus dibarengi dengan kecerdasan memilah informasi serta menjunjung tinggi etika dalam berinteraksi di ruang digital.

“Menjadi pintar itu penting, tapi tidak cukup. Yang lebih utama adalah membentuk pribadi yang beretika dan bermoral. Pendidikan seharusnya menciptakan manusia yang tidak hanya cerdas, tapi juga berintegritas,” katanya.

Terakhir, Ia berharap, generasi muda Indonesia dapat menjadi agen perubahan yang tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa, terutama dalam menghadapi derasnya arus globalisasi dan tantangan di era digital saat ini. (Adv/Rob/Bey)