
Boneka Badut Banyak bertaburan di sebagian rambu-rambu lampu lalu lintas di Kota Samarinda.[Az-Zahra/Times Kaltim)
Di Tengah peliknya kehidupan, sebagian masyarakat berbondong-bondong mengais celah picisan. Untuk menafkahi keluarga kecilnya. Sama halnya yang dirasakan Kostum Badut Penghibur Jalan.
Pasti, diantara kita banyak bertanya, Seperti apa cerita bekerja di balik kostum badut dan menghibur orang-orang yang berlalu di jalanan? Bagaimana rasanya seharian penuh berdiri di tepi jalan dalam kostum yang tidak tipis itu ? Dan bagaimana sang badut memandang hidup ini ?.
Krisis ekonomi kembali menghantam Tanah Air sejak Maret tahun 2020. Kali ini, akibat pandemi COVID-19. Semenjak datang pandemi, dengan cepat menjungkirbalikkan perekonomian. Banyak masyarakat yang harus banting stir untuk mencari nafkah, agar bisa mendapatkan sesuap nasi. Salah satunya menjadi badut dijalanan.
Jika Anda harus memberi rasa kasihan, siapa yang akan mendapatkannya? Apakah pengemudi ojek online ? pedagang kaki lima, atau badut yang berada di pinggir jalan sembari menghibur orang ketika pengendara roda dua ataupun empat yg berlalu.

Jika ditanya pernahkah menjumpai badut, maka hampir setiap orang pernah menjumpai . Setiap hari berdiri sambil bergoyang melambai-lambaikan tangan untuk menarik perhatian orang-orang yang melintas. Badut bisa dibilang penghibur jalanan yang paling tua usianya.
Menjadi sosok di dalam kostum badut adalah hal yang cukup berat dan melelahkan. Membawa kostum yang dengan ukuran setimpal dengan berat tubuhnya, ditambah lagi, harus menahan terik sinar matahari sepanjang hari, bukanlah hal yang mudah untuk orang-orang yang bermental lemah.
Kaki mereka berpijak di dalam panasnya aspal, dan area kulit yang terbuka terus-menerus terpapar sinar matahari. Namun, badut terus menari. Dia yakin bahwa mengisi perutnya dan bertahan hidup sangat penting baginya.
Tidak semua orang bisa menerima sosok seorang badut, ada yang menyukai dan ada yang takut akan badut. Hal tersebut mungkin daripada segi makeup atau bentuk wajah boneka badut itu sendiri.
Menjadi badut sama beratnya seperti pekerjaan profesi lain. Menjadi badut juga harus professional, membuat anak-anak yang tadinya takut menjadi berani dan mau diajak bermain Bersama.
Katika itu saya menjumpai seorang badut yang mana didalamnya adalah seorang bocah kecil.
Dan saya berucap, kenapa kamu disini ? Bukankah kamu harus sekolah ? Dan ia menjawab: “Ini tempatku. Kalau aku pergi sekolah, aku hanya menghabiskan banyak uang,” kata bocah itu.
Ia juga mengatakan, bisa belajar kapan saja, tetapi jika tidak menghasilkan uang sekarang, kata dia, akan mati kelaparan.
“Saya pun menawarkan kembali “Mau belajar? Saya bisa memberi kamu pelajaran agar Kamu tahu bahkan boleh membawa teman-teman Kamu.” Bocah itu menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin hidup.”
Menjadi badut bukan keinginan tetapi keharusan baginya untuk bisa mendapatkan uang.
Pesan yang ingin disampaikan adalah mengerjakan pekerjaan seperti ini adalah pilihan. Karena kita dituntut untuk tetap menghibur dan membuat orang lain tertawa meskipun kita sendiri memiliki banyak masalah, Disisi lain ada keadaan ekonomi yang mengharuskan kita untuk tetap berjuang bertahan hidup disaat yang seperti ini.
Di balik kostum badut yang lucu, mungkin saja ia adalah sosok yang juga butuh hiburan.
[Penulis: Az-Zahra Iswi Marita, Wakil Ketua HMPS BKI FUAD UINSI Samarinda]












