Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
NasionalNews

Aliansi PMII UINSI Samarinda Tuntut Kejelasan Tragedi September Hitam

351
×

Aliansi PMII UINSI Samarinda Tuntut Kejelasan Tragedi September Hitam

Sebarkan artikel ini

Satu diantara kader PMII UINSI Samarinda, Linda Mulyani sedang menyampaikan aspirasinya di Mimbar Kemanusiaan.(Ist)

Timeskaltim.com, Samarinda – Aliansi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UINSI Samarinda, mendeklarasikan dan menuntut kejelasan Tragedi berdarah september hitam yang saat ini, belum terungkap. 

Hal tersebut disampaikan Koordinator Lapangan, Iswannur usai Aksi ‘Terangkan Hitamnya September’ di Kampus I UINSI Jalan KH Abul Hasan No 3, Samarinda, pada Senin (13/9/2021) kemarin.

Pasalnya, Bulan September menjadi bulan kelam dalam peta sejarah penegakan hak asasi manusia atau Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Serentetan peristiwa tercatat cacat untuk pengungkapan permasalahan yang terjadi tersebut secara gamblang. Bahkan, sejumlah kasus pun hingga saat ini tetap saja tak pernah menemukan titik terang.

“Sebab pemicu awal, terjadinya tindak pembungkaman HAM, banyak terjadi di bulan september. Namun tak terungkap hingga saat ini,” ucap Iswanur Koordinator Lapangan saat dikonfirmasi wartawan Timeskaltim.com, Selasa (14/9/2021) pagi.

Aksi Kemanusiaan “Terangkan Hitamnya September” ini dipenuhi puluhan kader PMII UINSI Samarinda.(Ist)

Beberapa peristiwa getir dan penting tersebut terjadi pada September. Sebagian lembaga, pengamat, dan aktivis HAM pun akhirnya menyebut bulan tersebut sebagai September Hitam. Buruknya rekam jejak perjalanan membuat simbol warna kelam ini berbuah menjadi julukan.

“Namun kami tetap mendesak pemerintah untuk mengembalikan kejelasan kasus yang semakin terlupakan oleh manifestasi kepentingan,” lugasnya.

Salah satu kader PMII UINSI Samarinda, Ammar Abdillah.(Ist)

Iswan menambahkan, agar pihak akademisi terus berupaya mengingatkan kembali tragedi kelam yang banyak menelan banyak korban. Tanpa pandang bulu, bahkan hingga puluhan mahasiswa pun ikut menjadi korban kejahatan HAM.

“Kami Aliansi PMII UINSI Samarinda menuntut Pemerintah untuk mengusut tragedi september hitam ini hingga tuntas, dan kami juga meminta pihak birokrasi seluruh kampus se-Samarinda untuk tetap menjadikan peringatan tragedi ini, sebagai sejarah kelam Indonesia,” pungkasnya.(wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *