Populasi Nyamuk kian bertambah disebabkan musim kemarau.(Ilustrasi)
Timeskaltim.com, Samarinda – Kasus kemunculan musim kemarau yang berkepanjangan. Memicu, berbagai penyakit yang harus diwaspadai oleh masyarakat setempat. Terkhusus wabah Demam Berdarah Dangue (DBD). Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Masitah.
Berdasarkan data dari Dinkes Kaltim Juni tahun 2023, tercatat sebanyak 2.022 warga yang positif terjangkit penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), terdata pada Juni 2023, 11 orang diantaranya dinyatakan meninggal dunia.
“Kita perlu harus Waspada. Apalagi kondisi panas dan hujan bergantian begini menyebabkan bertambahnya populasi nyamuk,” jelas Masitah kepada media ini di ruang kerjanya, Senin (7/8/2023) siang.
Masitah mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus membangun sinergitas untuk mengentaskan kasus DBD di Benua Etam -julukan provinsi Kaltim- ini.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menggalakkan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) di sekitar tempat tinggal masing-masing.
Ia menambahkan, kasus tersebut juga dapat ditekan angka peningkatannya dengan cara saling bergotong royong dengan menerapkan 5 M.
“Yang paling efektif adalah penerapan 5 M itu. Mengindari genangan, membersihkan perkarangan rumah agar air tak tersumbat. Jadi diupayakan air itu mengalir. Karena air yang diam inilah yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk DBD,” tutupnya.

Di tempat yang sama, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2), Setyo Budi Basuki menjelaskan, pihaknya akan terus mengantisipasi perkembangan kasus DBD di musim hujan.
Ia menambahkan, dari total angka warga yang terjangkit DBD tersebut, yang paling banyak terdapat di Kota Balikpapan, sebanyak 561 orang dan dinyatakan meninggal dunia dua orang. Di Kabupaten Kutai Kartanegara positif 342 orang, meninggal dunia satu orang, Kota Samarinda sebanyak positif 311 orang, meninggal dunia dua orang.
Kemudian, di Kutai Timur positif sebanyak 184 orang, meninggal dunia nihil, Kota Bontang sebanyak 159 orang, meninggal dunia satu orang. Di Kabupaten Kutai Barat 121 orang, meninggal satu orang, Kabupaten Paser 107 orang, meninggal satu orang. Selanjutnya di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) sebanyak 98 orang, meninggal dunia dua orang, Kabupaten Berau sebanyak 82 orang, meninggal dunia satu orang, di Kabupaten PPU 57 orang , meninggal dunia nihil.
“Perkembangan kasus DBD memang hampir merata di semua kabupaten dan kota, maka dari itu kami berupaya senantiasa mengantisipasi apalagi saat ini curah hujan tinggi di Kaltim,” ucap pria akrab disapa Basuki.
Ia mengingatkan, penyakit DBD tidak bisa dipandang remeh, lantaran jika tidak tertangani dengan baik, akan berakibat hilangnya nyawa penderita, yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
“Untuk mengantisipasi hal tersebut, orang tua yang anaknya balita, jika terjadi demam, segera ditangani melalui fasilitas kesehatan terdekat, seperti Puskesmas atau klinik, jangan ditangani sendiri,” imbau Basuki.

Dikemukakannya, penanganan dini tersebut bertujuan untuk memastikan penyakit DBD tidak terlampau parah, dengan penanganan lebih awal. Beberapa kasus anak meninggal dunia karena DBD, lantaran tidak dideteksi lebih awal, sehingga penyakit tersebut terlanjur parah, setelah didiagnosa ternyata sel darah merah yang pecah.
“Terkadang masyarakat hanya menerka dalam mengidentifkasi penyakit dan tidak menyadari, sehingga gejala DBD dianggap hanya flu atau demam biasa,” pungkas Basuki.(Wan)












