Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialKukar

Tingkiland Fest Bukakan Jalan Musik Tingkilan ke Panggung Nasional

53
×

Tingkiland Fest Bukakan Jalan Musik Tingkilan ke Panggung Nasional

Sebarkan artikel ini
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri saat berada di atas panggung Tingkilan Fest. (Roby Sugiarto/Timeskaltim)

Timeskaltim.com, Kukar – Di halaman Kedaton Tenggarong, musik tradisional Kutai kembali menemukan panggung terbesarnya. Dua malam penyelenggaraan Tingkiland Fest 2025 menjadi bukti bahwa warisan budaya daerah bisa hidup berdampingan dengan selera musik masa kini.

Di antara sorot lampu dan riuh tepuk tangan, suara gambus dan ketipung membuka pertunjukan dengan irama yang akrab bagi masyarakat Kutai.

Namun malam itu, instrumen tradisional tidak tampil sendirian. Mereka berdialog dengan denting gitar elektrik, keyboard modern, dan vokal para musisi yang selama ini lebih dikenal lewat musik pop dan indie.

Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, berdiri di atas panggung memberi pesan yang menegaskan arah besar festival ini.

“Sejarah yang berkumpul di halaman Kedaton pada malam hari ini, insya Allah, akan menjadi saksi bahwa musik Tingkilan insya Allah akan menjadi salah satu musik yang mewarnai musik Indonesia,” ujar Aulia, pada Minggu (23/11/2025).

Ia menilai kolaborasi antara musisi nasional seperti Bilal Indrajaya dan band Elemen dengan musik Tingkilan bukan sekadar konsep kreatif, tetapi langkah nyata untuk membawa seni daerah menembus ruang yang lebih luas.

“Malam ini artis etam, apakah Bilal, apakah Elemen, semuanya akan menyanyi dengan iringan musik Tingkilan. Inilah alasan festival ini dibuat,” katanya.

Aulia juga mengajak generasi muda Kukar untuk memandang Tingkilan bukan hanya sebagai musik warisan, melainkan potensi identitas masa depan.

“Etam harus percaya dengan kekayaan daerah yang kita miliki. Musik Tingkilan ini bisa naik kelas, dikenal nasional bahkan mendunia,” ucapnya.

Dalam sambutannya, ia turut menanggapi suara publik soal penyelenggaraan konser di tengah kondisi anggaran daerah yang ketat. Aulia menegaskan bahwa Tingkiland Fest bukan proyek hiburan semata.

“Kalau tidak ada unsur lokalnya, kalau tidak ada unsur Tingkilan, kami pun tidak akan membuat konser ini,” tegasnya.

Menurutnya, festival ini adalah investasi jangka panjang untuk mengangkat budaya Kutai melalui ruang digital. Semakin banyak kolaborasi musisi nasional yang terekam dan dibagikan ke media sosial, semakin besar peluang Tingkilan dikenal luas.

“Kalau banyak orang menyanyi menggunakan musik Tingkilan dan videonya di-posting ke Instagram atau Facebook, segala orang bisa melihat bahwa musik Tingkilan punya daya tarik. Bahkan jauh lebih nyaman daripada banyak musik modern lainnya,” ujarnya.

Selama dua hari, Tingkiland Fest menghadirkan pengalaman baru bagi ribuan penonton. Di tengah perpaduan tradisi dan modernitas, Tenggarong menjadi saksi bagaimana musik Tingkilan tidak sekadar dipertunjukkan, tetapi diberi kesempatan untuk tumbuh menjadi bagian dari wajah baru musik Indonesia. (Adv/Rob/Bey)