Seorang bocah kelas 3 SD berusia 11 tahun berinisial AZ warga Kelurahan Rinding, ditemukan tewas dan mengambang di TKP, Minggu (9/10/2022) pagi di jalan Mulia, Kelurahan Rinding.(Ist)
Timeskaltim.com, Berau – Ancaman kolam eks lubang tambang Batu bara kembali memakan korban jiwa. Kali ini, Seorang bocah kelas 3 SD berusia 11 tahun berinisial AZ warga Kelurahan Rinding, Kecamatan Teluk Bayur harus merenggut nyawa setelah ditemukan mengambang di TKP, Minggu (9/10/2022) pagi di jalan Mulia, Kelurahan Rinding.
Untuk diketahui, bocah tersebut juga sempat dikabarkan hilang pada Sabtu (8/10/2022) sore. Bocah AZ yang dikabarkan murid kelas 3 SD itu ditemukan mengambang di sebuah kolam berwarna kehijauan sekirar pukul 10.00 Wita.
Sekitar lokasi kolam itu sendiri sebagian di kelilingi pagar seng. Selain itu juga ada beberapa rumah warga. Diduga kolam itu bekas galian tambang. Garis polisi sudah terpasang di kolam kejadian.
“Iya, ada anak ditemukan meninggal di bekas lubang tambang,” kata Adji, warga sekitar lokasi kejadian dikutip melalui Berauterkini.co.id.
Menurut Adji, dia sendiri tidak jarang melihat anak-anak bermain dan mandi di kolam itu. Bahkan Adji sempat melarang agar anak-anak tidak bermain di kolam itu pada Sabtu sore.
“Setelah saya larang, saya langsung pergi. Tidak tahu juga kalau sore itu ada kejadian anak tenggelam,” ujar Adji.
Pernyataan terpisah, Lurah Rinding, Misrin, membenarkan kejadian itu. Meski demikian dia belum bisa memastikan benar tidaknya kolam itu adalah bekas galian tambang batubara.

“Kalau informasi dari masyarakat seperti itu. Tapi itu perlu dipastikan apakah benar, atau hanya dugaan saja. Kalau sudah memakan korban, siapa yang akan bertanggungjawab? Jika memang belas galian tambang, pemilik lahan atau kontraktornya harus bertanggungjawab,” kata Misrin saat dikonfirmasi via telepon.
Sementara itu, Kapolresta Berau, AKBP Sindhu Brahmarya, juga membenarkan kejadian itu.
“Iya benar kejadiannya tadi pagi ada anak yang tenggelam. Anggota juga ada ke rumah duka. Sepertinya begitu (bekas tambang). Anggota saya minta untuk kumpulkan keterangan dan informasi di tempat kejadian perkara. Informasi detilnya akan saya sampaikan nanti ya,” ucap Sindhu melalui konfirmasi telepon.
Berdasarkan data yang dilansir Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim beberapa tahun lalu. Memasuki 2022, Total korban jiwa berjumlah menjadi 41 anak.
Sejak pemberitaan ini dipublikasikan, korban telah dievakuasi oleh Tim gabungan bersama masyarakat setempat.(Wan)












