Teks Foto : Penyemprotan pestisida mengurangi populasi ulat bulu di Taman Bebaya Samarinda. (Hafif Nikolas/Times Kaltim)
Timeskaltim.com, Samarinda – Fenomena ulat bulu di sekitar lingkungan Taman Bebaya Kota Samarinda, memberi keresahan bagi sebagian masyarakat kota berjulukan Tepian itu. Terlebih, efek gatal disertai bintik kemerahan pada kulit. Terindikasi merupakan efek dari populasi ulat bulu yang berlebih. Hal tersebut, memberikan ancaman, terutama anak-anak. Yang tengah bermain di sekitar taman.
Ketua Samarinda Animal Rescue, Suparlin menjelaskan fenomena gatal-gatal pada kulit masyarakat yang melintas di Taman Bebaya Samarinda akibat ulat bulu yang kian banyak.
“Yang menyerang warga ini adalah sisa-sisa metamorfosis dari ulat bulu, yakni bulu-bulu halus yang terbang mengenai bagian kulit pengendara,” ucap Suparlin, baru-baru ini.
Bulu-bulu halus dari ulat tersebut yang langsung mengenai kulit manusia. Dapat menyebabkan efek gatal.
Dari itu, pihak Samarinda Animal Rescue bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan tindakan untuk mengurangi populasi ulat bulu yang ada di Taman Bebaya Samarinda.
Dengan melakukan penyemprotan cairan sektisida, pestisida, hingga obat ulat di wilayah taman.
“Ulat yang terkena cairan ini akan mati. Kemudian, daun yang sudah disemprot, menjadi racun untuk ulat itu sendiri. Kami pastikan cairan ini tidak merusak tanaman,” pungkasnya.
Disamping itu, Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso mengatakan pihaknya terus memantau fenomena ini. Pihaknya, juga melakukan penutupan Taman Bebaya, agar tidak ada lagi masyarakat yang terdampak permasalahan ulat bulu ini.
“Kita akan terus pantau Taman Bebaya ini. Jangan sampai, area hama bisa menyebar ke wilayah lain,” tuturnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismed Kusasih mengungkapkan pengaruh dari ulat bulu yang menyebabkan gatal-gatal, tidak terlalu berbahaya bagi masyarakat.
Namun, penyakit yang disebabkan ulat bulu ini tetap perlu diobati.
“Tergantung sama kondisi dan berapa lama terpaparnya. Sampai semua yg datang ke puskesmas tetap diobati. Obatnya juga banyak dijual ditoko obat , apotik obat antigatal atau anti histamin,” pungkasnya. (Nik/Wan)












