
TimesKaltim.com, Samarinda – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sudah mulai diterapkan di berbagai sekolah, tak terkecuali di Kota Samarinda. Hal ini didasari dengan adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri nomor 5 tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa Covid-19 dan persetujuan pemerintah Kota Samarinda.
Di Kota Samarinda sendiri, berdasarkan data dari Dinas Pendidikan diketahui sejumlah 340 sekolah dari jenjang TK – SMP telah memberlakukan PTM secara terbatas, dengan durasi belajar harian selama 2 jam.
Melihat situasi ini, Komisi IV DPRD Samarinda yang membidangi pendidikan pun turut terlibat, dengan melakukan sidak ke beberapa sekolah yang ada di Kota Samarinda. Terdapat dua sekolah yang sudah dijumpai, yakni di Kecamatan Sungai Kunjang dan Kecamatan Samarinda Kota.
Hal ini disampaikan oleh Damayanti Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, dari hasil sidaknya, diketahui masih perlu adanya edukasi kepada siswa agar tetap menerapkan prokes secara ketat di lingkungan sekolah, terutama jika sedang berinteraksi bersama kawannya.
“Untuk PTM bagi anak SD – SMP terutama di kelas bawah, memang ada sebagian anak yang kurang paham prokes,” jelas Damayanti.
“Ya namanya anak-anaknya mungkin sudah diberitahu oleh gurunya namun ketika lagi bercengkrama sama temannya jadi lupa prokes,” tambahnya.
Lanjut Damayanti menjelaskan, bahwa perlu ada pemahaman yang disampaikan tidak hanya oleh pihak sekolah, namun juga dari pihak orang tua yang bisa memberikan pemahaman kepada anak-anaknya terkait penerapan prokes.
Maka dari itu, menurutnya perlu ada sinergitas antara sekolah dan orang tua agar dapat mewujudkan PTM yang aman dan nyaman di sekolah. Koordinasi dan komunikasi antara sekolah dan orang tua harus aktif dilakukan untuk sama-sama menjaga anak murid.
“Perlu kerja sama pihak sekolah dengan orang tua untuk mengingatkan ke anak-anak walaupun PTM sudah dilakukan prokes tetap harus dijalankan,” terang Damayanti.
Melihat dari segi fasilitas, Damayanti melihat pihak sekolah sudah menyiapkan prokes dengan baik, seperti menyediakan tempat cuci tangan, kemudian tempat duduk dibuat berjarak di dalam kelas serta menyediakan masker bagi siswa yang tidak membawa masker.
“Untun teknis dan sarana pendukung di sekolah sudah baik dan cukup memadai, tinggal mendisiplinkan siswa agar tetap taat prokes selama dilingkungan sekolah,” tutupnya.(Aji)












