Timeskaltim.com, Kukar – Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) 2025 di Kutai Kartanegara (Kukar) akan tampil berbeda. Tak lagi dipenuhi kompetisi antar peserta, tahun ini kegiatan budaya tahunan itu bertransformasi menjadi ruang belajar dan apresiasi budaya yang lebih mendalam bagi masyarakat, terutama pelajar.
Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, M. Saidar, mengatakan, perubahan konsep ini lahir dari semangat agar generasi muda bisa mengenal akar budayanya secara langsung, bukan hanya lewat buku teks atau lomba.
“Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, PKD kali ini tidak mengadakan lomba. Fokusnya lebih kepada pengenalan dan edukasi budaya kepada masyarakat, terutama bagi peserta didik,” ujarnya, Senin (20/10/2025).
PKD 2025 dijadwalkan berlangsung pada 20–24 Oktober di Gedung Serapo Kompleks Museum Mulawarman Tenggarong. Mengusung tema 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), kegiatan ini akan menggandeng berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pelaku budaya lokal.
Saidar menambahkan, pelibatan sekolah menjadi langkah strategis untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini. Melalui pameran dan pertunjukan, siswa diharapkan dapat merasakan langsung kekayaan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kukar.
“Kami ingin sekolah-sekolah terlibat agar siswa bisa mengenal langsung kekayaan budaya Kutai Kartanegara, bukan hanya lewat buku,” katanya.
Sejumlah OPD sudah menyiapkan konten menarik. Dinas Pemuda dan Olahraga, misalnya, akan menampilkan permainan tradisional seperti gasing, belogo, dan egrang. Sementara Dinas Koperasi dan UMKM menghadirkan produk serta kuliner khas Kukar yang menggugah selera.
Sebagai puncak acara, malam anugerah budaya akan digelar untuk memberikan penghargaan kepada seniman dan budayawan yang berperan besar menjaga dan mengembangkan tradisi daerah.
Dengan menghadirkan 12 stan pameran, PKD 2025 diharapkan menjadi ajang refleksi sekaligus kebanggaan atas warisan leluhur. Lebih dari sekadar pameran, kegiatan ini ingin meneguhkan kembali semangat masyarakat untuk merawat identitas budaya daerah.
“Ini bukan hanya pameran, tapi wadah apresiasi. Kami ingin memberi ruang bagi para pelaku budaya yang selama ini berkontribusi dalam menjaga identitas daerah,” tutur Saidar. (Rob/Bey)










