Kutai Timur – Di tengah alam hijau Kecamatan Telen, pertanian tetap menjadi denyut kehidupan masyarakat. Meski belum menembus pasar luar daerah, hasil sawah dan ladang yang dikelola warga menjadi sumber utama ketahanan pangan lokal.
Kini, sejumlah desa mulai membuka lahan baru dengan harapan produksi beras di Telen bisa meningkat tanpa bergantung pada pasokan dari luar.
Pertanian di Telen memiliki potensi besar, namun tantangan alam seperti banjir masih menjadi kendala utama. Di beberapa wilayah, petani harus beradaptasi dengan kondisi lahan yang mudah tergenang air, sementara di wilayah lain sudah mulai dirancang pembukaan lahan baru untuk memperluas area tanam.
Camat Telen Petrus Ivung menjelaskan bahwa hingga kini, hasil pertanian seperti beras di wilayahnya masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat. Berbeda dengan daerah lain seperti Desa Miau Baru yang sudah mampu memasarkan hasil panen ke luar wilayah.
“Untuk hasil pertanian seperti beras, di Kecamatan Telen tidak ada yang diekspor ke luar, masih untuk kebutuhan sendiri,” ungkap Petrus.
Ia menambahkan bahwa lahan sawah aktif di Telen berada di Desa Juk Ayak, yang menjadi satu-satunya kawasan dengan produksi beras cukup stabil. Sementara itu, wilayah Muara Pantun belum bisa dimanfaatkan maksimal karena kondisi geografisnya yang rawan banjir.
“Di daerah lain seperti Desa Miau Baru sudah menghasilkan untuk dijual keluar. Di Telen, lahan sawah yang sudah berfungsi ada di Desa Juk Ayak,” jelasnya.
Petrus menjelaskan bahwa lahan di Muara Pantun lebih cocok dikembangkan menjadi tambak dibanding sawah, karena cepat tergenang air saat musim hujan. Namun di seberangnya, tepatnya di Desa Batu Redi, pemerintah telah menyiapkan rencana alokasi lahan baru untuk pertanian padi.
“Di Muara Pantun lahan cepat sekali tergenang kalau banjir, jadi lebih cocok untuk tambak. Di seberang Muara Pantun, yaitu Desa Batu Redi, sudah ada rencana alokasi lahan sawah baru,” katanya.
Lahan baru yang disiapkan di Batu Redi diperkirakan mencapai 2–5 hektare. Menurut Petrus, area tersebut relatif aman dari banjir besar, sehingga memiliki potensi besar untuk menjadi sumber produksi pangan lokal.
“Kalau tidak banjir besar, lahan itu aman dan bisa digunakan untuk produksi lokal,” tegasnya.
Dengan strategi perluasan lahan dan penyesuaian pola tanam sesuai kondisi alam, Kecamatan Telen menegaskan komitmennya menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat sektor pertanian sebagai tumpuan ekonomi masyarakat pedesaan.(SH/ADV).












