Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Kukar

Olahraga Tradisional Naik Panggung, Kemenpora Dorong Masuk Kurikulum dan Jadi Daya Tarik Wisata

413
×

Olahraga Tradisional Naik Panggung, Kemenpora Dorong Masuk Kurikulum dan Jadi Daya Tarik Wisata

Sebarkan artikel ini
Asdep Olahraga Masyarakat Kemenpora, M Sobihan memainkan permainan tradisional ketapel di Halaman Stadion Rondong Demang, Tenggarong, pada Rabu (13/08/2025).

Timeskaltim.com, Kukar – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI menggelar festival olahraga tradisional di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).

Acara yang berlangsung sejak tanggal 12 hingga 13 Agustus 2025, ini mempertandingkan tiga cabang utama, yakni begasingan, besumpit, dan ketapel, serta menghadirkan deretan stan kuliner khas daerah.

Asisten Deputi (Asdep) Olahraga Masyarakat Kemenpora, M Sobihan, mengatakan kegiatan ini merupakan antara kerjasama Kemenpora dan Komisi X DPR RI, dan mendapat dukungan langsung dari Ketua Komisi tersebut yaitu Hetifah Sjaifuddian. Perlombaan ini bukan hanya sebagai ajang hiburan, tetapi juga bagian dari misi pelestarian budaya.

“Harapan kami, kegiatan ini menjadi contoh bagi daerah lain agar olahraga tradisional tetap lestari dan mengajak masyarakat lebih aktif bergerak. Kami juga ingin ini masuk ke sekolah, minimal di kegiatan ekstrakurikuler, sehingga generasi muda bisa mengenal dan mencintai permainan tradisional,” ujar Sobihan di halaman Stadion Rondong Demang, pada Rabu (13/08/2025).

Ia menegaskan, Kemenpora memiliki agenda rutin untuk mendukung eksistensi olahraga tradisional, yakni Festival Olahraga Tradisional setiap tahun ganjil dan Pekan Olahraga Tradisional setiap tahun genap. Dan, dirinya berharap ajang serupa di Kukar tidak hanya berhenti di tingkat kabupaten, tetapi bisa berkembang ke level provinsi dan nasional.

Senada dengan hal itu, Pemerhati Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Darmayani HS, menilai potensi olahraga tradisional di Kukar sangat besar jika dikemas dengan pendekatan budaya.

“Tadi saya lihat gasing Kukar sudah terdaftar di Kekayaan Intelektual Kemendikbud. Akan jauh lebih kuat kalau setiap penampil mengenakan busana atau ornamen daerah, sehingga identitas lokalnya terlihat jelas,” katanya.

Menurutnya, dengan menggabungkan olahraga tradisional dengan unsur budaya seperti kostum, musik, dan cerita rakyat dapat menciptakan paket wisata unik.

“Kalau ini dikemas sebagai atraksi wisata, Kukar bisa punya destinasi yang tidak dimiliki daerah lain,” tambahnya.

Disisi lain, Panitia Penyelenggara, Norsyamdani, mengungkapkan, pemilihan cabang lomba berdasarkan minat dan jumlah peserta terbanyak di Kukar.

“Sebenarnya cabang olahraga tradisional di sini banyak, tapi yang paling diminati adalah gasing, sumpit, dan ketapel,” jelasnya.

Ia menyebutkan, kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada hari pertama tercatat sekitar 400 peserta, terdiri dari pelajar dan komunitas umum. Untuk kategori pelajar, setiap sekolah mengirim sembilan peserta, masing-masing tiga orang untuk ketapel, gasing, dan sumpit.

“Seleksi dilakukan di hari pertama, lalu finalnya digelar di hari kedua,” terangnya.

Teruntuk total hadiah untuk kategori pelajar, Dani menyebutkan, juara pertama mendapat Rp1 juta, juara kedua Rp800 ribu, dan juara ketiga Rp600 ribu. Untuk kategori umum, juara pertama memperoleh Rp1,2 juta, juara kedua Rp1 juta, dan juara ketiga Rp800 ribu.

“Target kami, olahraga tradisional di Kukar bisa menjadi rujukan event olahraga tradisional tingkat nasional. Kami ingin ini membesar, bukan hanya jadi agenda lokal,” tegas Dani.

Festival ini menandai langkah strategis bagi Kukar untuk memadukan olahraga, budaya, dan pariwisata. Dengan dukungan pemerintah pusat, pelaku pariwisata, dan komunitas lokal, olahraga tradisional diharapkan tidak hanya menjadi warisan yang lestari, tetapi juga motor penggerak ekonomi daerah. (Rob/Bey)