Timeskaltim.com, Samarinda – Dalam acara malam ta’aruf MTQ Ke – 30 tingkat Nasional yang dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), di ikuti oleh para perwakilan pimpinan daerah serta dihadiri oleh tokoh Nasional yakni Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar.
Beberapa hari belakangan ini, momen mengharukan Imam Besar masjid Istiqlal Nasaruddin Umar yang mencium kening Paus Fransiskus menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya kecupan persahabatan itu, dibalas hangat oleh Paus.
Momentum persahabatan antara keduanya tentu menjadi sebuah sejarah bagi umat, khususnya di bumi pertiwi Indonesia sebuah pertemuan dan tingkah laku yang amat menyejukan hati.
Usai mengikuti acara malam ta’ruf, kepada wartawan Timeskaltim, dengan raut wajah bahagia di iringi tawa, Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa, momen sejuknya bersama Paus Fransiskus bersifat sepontanitas.
“Iyaa tentu saya bahagia, karena memang ini menjadi yang pertama dalam sejarah dunia,” ucapnya pada, Sabtu (07/09/2024) pukul 21.53 Wita.
Selain dari pada itu, ia juga mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim, karena telah memberikan yang terbaik untuk acara MTQ Ke – 30 ini.
“Iyaa alhamdulillah bahwa provinsi Kaltim inikan, selalu siap karena pelaksanaan upacara HUT RI kemarin sukses, lalu gelaran MTQ tingkat Nasional Ke – 30 ini juga insyallah sukses,” sebutnya
Kata dia, gelaran MTQ Ke – 30 ini memiliki suatu kebanggan tersendiri, karena pada MTQ kali ini dihadiri langsung oleh bapak Presiden Joko Widodo.
“Baru kali ini bapak presiden ikut hadir langsung, insyallah ini awal yang baik bagi suksesnya acara ini, dan kita doakan semoga pada besok malam bapak presiden sudah bisa membersamai kita,” ucapnya.
Ditambahkan nya, semoga Kaltim yang sekarang telah berstatus menjadi Ibu Kota Nusantara (IKN) ini, bisa kemudian mendorong perkembangan yang baik untuk terus meyiarkan Al-Quran, bisa lebih semarak, dan dapat lebih meningkatkan Ukhuwah Islamiyah nya.
“Yang paling penting adalah harus paralel antara kesemarakan dan penghayatan, karena keduanya merupakan sesuatu yang saling melengkapi. Sebab kesemarakan tanpa penghayatan tentu kurang begitu pun sebaliknya penghayatan tanpa kesemarakan juga tidak cukup, sebab keduanya harus berjalan beriringan,” tandasnya. (Has/Wan)












