Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Satya Adi Saputra, polemik antara orang tua pasien dan oknum dokter di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda wajib deselesaikan dengan baik.
Merujuk informasi yang dihimpun oleh Timeskaltim.com, seorang warga Samarinda melayangkan somasi kepada Rumah Sakit Dirgahayu. Somasi tersebut diajukan oleh Bambang Edy Dharma orangtua pasien berusia delapan tahun.
Yang pada waktu itu, anak tersebut tengah mengalami kondisi medis yang mengkhawatirkan, yaitu demam tinggi dan di ikuti sesak nafas.
Edy Dharma merasa keberatan atas pernyataan oknum dokter yang berkata “Tidak ada kegawat daruratan, kalau mau berobat bayar,” atas pernyataan tersebutlah pihaknya merasa keberatan dan melayangkan somasi.
Kepada awak media, ia menegaskan bahwa sebagai seorang yang berprofesi sebagai seorang dokter dan juga legislator dirinya tentu harus bersikap netral.
Terkait dengan regulasi BPJS. Ia menyebutkan bahwa BPJS memiliki regulasi tersendiri yang mengatur tentang kriteria pasien yang boleh masuk dan dirawat melalui UGD, begitupun sebaliknya kriteria pasien dirawat melalui Poli Klinik.
“Jadi begini, kemungkinan besar menurut penilaian dokter jaga pada saat itu, pasien yang bersangkutan ini tidak masuk dalam kriteria untuk dirawat melalui UGD, tetapi harus melaui Poli Klinik,” ungkapnya kepada wartawan Timeskaltim.com, Selasa (18/5/2025).
Akan tetapi menurut dia, terdapat penyebab lain yang memicu kisruh. Yakni penyampaian oknum dokter ke pasien yang dirasa kurang baik dan kurang pantas didengar.
Ia menjelaskan bahwa jika pasien memaksakan ingin untuk dirawat di UGD sangat diperbolehkan, tetapi tidak dapat menggunakan BPJS. Pasalnya, jika penyakit yang dialami pasien tidak masuk dalam kriteria penyakit yang ditanggung oleh BPJS, maka claim rumah sakit kepada BPJS tidak akan dibayarkan.
Lebih lanjut ia mengakui bahwa sering sekali terjadi komunikasi antara dokter dan pihak keluarga pasien yang kurang bagus, yang disebabkan oleh beberap hal.
Karena dokter yang sangat lelah saat berjaga, menanganai banyak pasian dan sebagainya. Oleh karena itu masalah serupa membuat terjadinya miskomunikasi.
Apalagi ketika orang tua yang kawatir terhadap kondisi keselamatan anaknya, dapat memicu rasa kawatir yang sangat tinggi.
“Ini sudah sering sekali kita hadapi kasus-kasus seperti ini dibeberapa rumah sakit,” ucapnya.
Diakhir wawancara, politisi partai Golkar ini berharap agar masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan (mediasi). Sehingga tidak perlu harus masuk diranah hukum.
“Biasanyaa rumah sakit bisa gelar mediasi bersama dengan dokternya, begitu juga dengan keluarga pasien,” pungkasnya. (Has/Bey)












