Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Culture

Memaknai Merangin Ritual Sakral di Erau, Eksotis Sebagai Warisan Budaya Kesultanan

634
×

Memaknai Merangin Ritual Sakral di Erau, Eksotis Sebagai Warisan Budaya Kesultanan

Sebarkan artikel ini
Acara Adat Merangin di Erau Adat Pelas Benua Kukar 2024. (Roby Sugiarto/Times Kaltim)

Timeskaltim.com, Kukar – Di balik kemeriahan pesta adat Erau yang memikat banyak mata, ada sebuah tradisi sakral yang tak boleh dilewatkan.

Erau, sebagai warisan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang telah berlangsung selama ratusan tahun, memiliki sejumlah ritual sakral. Salah satu yang paling penting adalah Merangin, sebuah prosesi yang menandai dimulainya rangkaian acara Erau.

Merangin bukan sekadar ritual adat, melainkan bentuk penghormatan yang mendalam kepada alam semesta serta tamu-tamu yang datang, baik dari dunia nyata maupun dunia lain.

Upacara ini juga merupakan simbol pemberitahuan kepada masyarakat luas bahwa Erau, pesta adat terbesar di Kutai Kartanegara (Kukar), akan segera berlangsung. Tradisi ini penuh dengan makna spiritual yang kental dan diselimuti suasana magis yang sulit dilupakan.

Prosesi Merangin selalu dimulai dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara. Dalam suasana yang khusyuk, mantra ini diikuti oleh tujuh belian laki dan tujuh belian bini yang mengelilingi Binyawan, sebuah simbol sakral yang berada di tengah bangunan tempat upacara berlangsung.

Saat mantra dilantunkan, pimpinan upacara sesekali menebarkan beras kuning, simbol harapan agar upacara dan rangkaian acara Erau berjalan lancar. Suasana semakin mendalam ketika bunyi gong dan tabuhan gendang mulai mengalun, menambah kesan sakral pada prosesi tersebut.

Setelah mantra selesai dibacakan, tujuh belian laki berdiri dan mulai mengelilingi Binyawan, sebuah gerakan yang diiringi dengan tabuhan gendang yang semakin intens. Putaran mereka bukan sekadar tarian, melainkan representasi dari perjalanan spiritual yang penuh makna.

Setiap gerakan dan irama musik yang mengiringi seolah mengajak siapa saja yang menyaksikannya masuk dalam dimensi lain, di mana tradisi dan penghormatan kepada alam serta leluhur terasa begitu dekat.

“Ritual merangin ini adalah sebuah permohonan agar kegiatan erau dapat berjalan dengan lancar,” ujar pelaku tradisi adat Merangin, Madi saat ditanya mengenai makna dari prosesi ini.

Merangin juga diyakini sebagai cara untuk menyambut tamu-tamu dari luar, yang dalam kepercayaan masyarakat adat Kutai tidak terbatas pada tamu dari dunia nyata saja.

Selain itu, Merangin bukan hanya menjadi pembuka Erau, Madi mengatakan, ritual ini juga jembatan spiritual antara masa lalu dan masa kini, antara dunia manusia dan alam gaib.

“Ritual ini terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Kukar, menyatukan tradisi, kepercayaan, dan harapan akan kelancaran pelaksanaan Erau yang selalu dinanti setiap tahunnya,” terangnya.

Dengan Merangin, masyarakat Kutai percaya bahwa mereka tidak hanya menyambut tamu-tamu dari berbagai daerah, tetapi juga menjaga keharmonisan dengan alam dan leluhur mereka. (Rob/Wan)