Timeskaltim.com, Kukar – Wajah pertanian di Kecamatan Samboja Barat kini banyak berubah. Di tengah pesatnya pembangunan permukiman, lahan sawah perlahan menyusut, meninggalkan hanya sedikit ruang bagi petani untuk tetap bertahan menanam padi.
Camat Samboja Barat, Burhanuddin, mengakui bahwa keterbatasan lahan menjadi tantangan utama bagi sektor pertanian di wilayahnya.
“Untuk padi, kami sangat terbatas. Lahan hanya sekitar 55 hektare. Selebihnya sudah berubah jadi pemukiman,” ujarnya, pada Jumat (10/10/2025).
Ia menuturkan, kondisi ini membuat produksi pangan berbasis padi kian berkurang. Di saat kebutuhan masyarakat terus meningkat, daya dukung lahan tidak lagi seimbang.
“Jumlah 55 hektare itu jelas sangat kecil dibandingkan kebutuhan warga,” katanya.
Selain lahan, pasokan air juga menjadi kendala besar. Banyak petani kesulitan mengairi sawah sehingga hasil panen tidak maksimal.
“Kalau air susah, otomatis biaya lebih besar. Banyak tanah yang akhirnya tidak digarap,” ungkapnya.
Burhanuddin menceritakan, sebagian warga akhirnya memilih menjual lahan mereka. Ada pula yang mengalihfungsikan sawah menjadi area kaplingan atau membiarkannya kosong.
“Ada lahan yang akhirnya dibiarkan kosong, bahkan ada yang berubah jadi kaplingan,” jelasnya.
Meski begitu, semangat para petani belum padam. Mereka beralih ke sistem tanam yang lebih adaptif: hortikultura, terutama dengan metode hidroponik. Inovasi ini menjadi harapan baru di tengah keterbatasan lahan dan air.
“Sekarang hortikultura jadi harapan baru bagi petani di Samboja Barat,” sebut Burhanuddin.
Kini, kebun-kebun hidroponik tumbuh di pekarangan rumah hingga lahan sempit di pinggir jalan. Dari sistem sederhana itu, Samboja Barat justru menjelma menjadi salah satu pemasok utama sayuran hidroponik ke Kota Balikpapan.
“Kelurahan Bukit Merdeka bantu suplai 80 persen kebutuhan sayuran hidroponik ke Balikpapan,” tuturnya.
Sawi dan sayuran daun lainnya menjadi andalan. Hasilnya segar, produktif, dan mampu bersaing di pasar perkotaan.
“Sawi dan sayur daun lain cocok ditanam dengan sistem hidroponik, dan hasilnya sudah terbukti bagus,” ucapnya.
Burhanuddin berharap, kesuksesan ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah. Dukungan pelatihan, akses pupuk, dan jaminan pasar dinilai penting agar para petani bisa terus berkembang.
“Hidroponik sudah terbukti menopang ekonomi warga. Tinggal bagaimana kita kembangkan lebih serius,” pungkasnya. (Rob/Bey)










