Kutai Timur – Deru mesin tambang yang tak pernah berhenti dan gemuruh truk pengangkut batu bara masih menjadi denyut nadi ekonomi Kutai Timur. Di balik langit berdebu dan pipa-pipa raksasa yang menembus bukit, tersimpan tantangan besar bagi pemerintah dan masyarakat bagaimana mengubah ketergantungan terhadap sektor tambang menjadi kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan. Selain menjaga produksi, inovasi diperlukan untuk menciptakan peluang di sektor lain, seperti pertanian, pariwisata, dan industri kreatif, sehingga pembangunan daerah tidak hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi juga mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh warga Kutai Timur.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengungkapkan bahwa daerahnya merupakan salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 39,78 juta ton hingga September 2025.
Angka ini, katanya, sebagian besar berasal dari PT Kaltim Prima Coal (KPC), disusul PT Indominco Mandiri, PT Perkasa Inakakerta, PT Indexim Coalindo, dan PT GAM.
“Perusahaan-perusahaan ini berperan besar dalam mendongkrak ekonomi daerah,” ujar Ardiansyah.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas tambang tersebut telah menjadi penopang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutai Timur, yang ditargetkan menembus Rp359,6 triliun pada 2025.
Namun di balik angka fantastis itu, Bupati menekankan perlunya strategi transisi ekonomi yang matang.
“Kita tidak boleh terus bergantung pada tambang. Harus ada langkah nyata menuju kemandirian ekonomi pascatambang,” tegasnya.
Menurut Ardiansyah, masa depan Kutai Timur tidak boleh hanya diukur dari volume produksi tambang, melainkan dari seberapa jauh daerah mampu menciptakan lapangan kerja baru, mengelola lahan bekas tambang, dan menumbuhkan sektor produktif lain.
Dengan visi “Kutai Timur Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing”, pemerintah daerah bertekad menjadikan era pascatambang bukan sebagai akhir, melainkan sebagai babak baru menuju kemandirian ekonomi masyarakat.(SH/ADV)












