Ilustrasi anak yang diberikan pendampingan di panti sosial. (Ist).
Timeskaltim.com, Samarinda – Karakter anak akan terbentuk dari pondasi awal kehidupannya. Yakni melalui lingkungan keluarga terlebih dahulu. Anak yang pada dasarnya terbiasa merekam kejadian dan meniru perbuatan yang dia lihat juga berpotensi melakukan kejahatan. Hal itu merupakan akibat dari lingkungan yang kurang baik.
Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD PPA Kaltim, Ira Mayangsari menyebutkan bahwa pembentukan karakter anak tak lepas dari keterlibatan orangtua. Apalagi, pola asuh orangtua turut mempengaruhi tindakan anak.
“Jadi peran orang tua itu sangat penting bagi anak. Jika pola asuh yang salah, maka anak yang akan menjadi korbannya,” bebernya, Senin (28/11/2022).
Diakui Ira, pihaknya juga pernah menangani kasus yang dilakukan seorang anak. Pada saat skrining kasus, rupanya anak itu tak mendapat perhatian yang cukup dari orangtua maupun keluarganya.
“Seperti kasus yang saya tangani, ada anak yang mencuri hingga 30 kali. Dan itu bukan atas kemauannya sendiri, melainkan atas perintah. Kebetulan anak itu butuh uang juga, karena orang tua tidak memberikan (uang) serta tidak melakukan pengawasan,” jelas Ira.
Walhasil, pihaknya pun menilai bahwa pola asuh yang kurang tepat dan orangtua yang tak peduli terhadap anak bisa mempengaruhi anak itu melakukan tindak kejahatan. Banyak ditemukan anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) muncul dari anak yang jarang mendapat perhatian dari orangtuanya. Bisa jadi karena orangtuanya sibuk dan tak pernah ada interaksi yang berarti antara orangtua dan anak.
“Kalau orangtuanya selalu sibuk dan tidak pernah mengajak mengobrol, memberikan perhatian ke anak serta tidak memberikan pola pengasuhan yang kuat jadi ya anak akan berbuat apa saja yang dia mau tanpa ada batasan tertentu,” ungkapnya lagi.
Dia pun meminta agar orangtua bisa memberi perhatian yang cukup untuk anak. Salah satunya dengan cara berkomunikasi secara rutin dan memberi pola asuh yang tepat. (Gan/adv/DKP3A Kaltim)












