Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialDPRD Kaltim

Komisi II DPRD Kaltim Soroti Kebakaran RSUD AWS, Sapto Desak Audit Pemeliharaan

145
×

Komisi II DPRD Kaltim Soroti Kebakaran RSUD AWS, Sapto Desak Audit Pemeliharaan

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kaltim, Sapto Setyo Pramono. (Hasbi/Times Kaltim)

Timeskaltim.com, Samarinda – Insiden kebakaran yang melanda Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda pada Rabu (30/7/2025) dini hari mendapat sorotan tajam dari Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Kepada awak media, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Sapto Setyo Pramono, menegaskan perlunya investigasi menyeluruh terkait penyebab kebakaran.

Sekaligus mempertanyakan standar perawatan gedung khususnya, fasilitas keamanan seperti alarm, dan detektor asap.

“Pertama, harus dipastikan dulu apa penyebab kebakaran itu. Kedua, apakah terjadi di gedung baru atau lama?” ujar Sapto, pada Sabtu (2/8/2025).

Kata dia, jika insiden terjadi di gedung lama, maka hal itu harus menjadi evaluasi serius, terutama terkait perawatan fasilitas dan sistem mitigasi bencana.

Menurutnya, alarm dan detektor asap wajib dirawat maupun diperbarui agar tetap berfungsi optimal.

“Walaupun gedung lama, perawatan harus tetap dilakukan. Kalau tidak, tentu jadi tanda tanya besar: siapa yang bertanggung jawab dan di bawah kewenangan siapa?” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebagai komisi yang membidangi bagian keuangan. Komisi dua, menurutnya akan segera memanggil seluruh rumah sakit milik Pemprov Kaltim, khususnya yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), untuk mengaudit pemanfaatan anggaran pemeliharaan.

“Jangan-jangan dana maintenance ada, tapi tidak dijalankan dengan baik,” ungkapnya.

Sapto menilai, kelalaian dalam pemeliharaan berpotensi membuat dana yang tersedia tidak tepat sasaran dan akhirnya merugikan pelayanan publik.

Lebih lanjut, Sapto menolak jika penyebab kebakaran nantinya hanya disederhanakan dengan alasan korsleting listrik. Menurutnya, hal itu justru menunjukkan adanya kelalaian dalam pengelolaan fasilitas.

“Saya juga orang K3, paham soal ini. Jadi jangan asal berstatement. Penyebab kebakaran harus disampaikan berdasarkan kajian ilmiah, bukan sekadar asumsi,” tegasnya.

Diakhir ia menekankan bahwa investigasi harus transparan dan berbasis keilmuan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. (Adv/Has/Bey)