Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Kukar

Komisi I DPRD Kukar Tinjau Jalan Usaha Tani Rusak di Bukit Biru

19
×

Komisi I DPRD Kukar Tinjau Jalan Usaha Tani Rusak di Bukit Biru

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi I DPRD Kukar meninjau jembatan di jalan pertanian Bukit Biru yang kurang layak. (Roby Sugiarto/Timeskaltim)

Timeskaltim.com, Kukar – Anggota Komisi I DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) meninjau langsung kondisi jalan usaha tani yang rusak di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, pada Senin (19/01/2026). Peninjauan dilakukan setelah adanya keluhan petani yang kesulitan mengakses lahan akibat jalan yang tidak layak dilalui.

Kunjungan dipimpin Anggota Komisi I DPRD Kukar, Desman Minang Endianto, bersama anggota lainnya. Mereka meninjau empat titik ruas jalan usaha tani yang selama ini menjadi akses utama pengangkutan hasil pertanian warga.

Dalam pertemuan dengan masyarakat, terungkap bahwa kerusakan jalan telah berlangsung sekitar 10 tahun dan belum pernah mendapat perbaikan signifikan. Warga mengaku telah berulang kali mengajukan proposal perbaikan kepada pemerintah daerah.

“Kami melihat langsung kondisi jalan usaha tani yang sangat memprihatinkan. Jalan ini vital bagi petani, sehingga perlu segera ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten,” ujar Desman.

Ia menegaskan, Bukit Biru merupakan kawasan pertanian yang membutuhkan infrastruktur penunjang agar aktivitas dan produktivitas petani tidak terganggu.

Selain jalan usaha tani, Komisi I DPRD Kukar juga meninjau kondisi pemakaman Sukimin di RT 17 Kelurahan Bukit Biru. Di lokasi tersebut ditemukan keretakan dan potensi longsor yang dikhawatirkan membahayakan area pemakaman.

“Kami berharap dinas terkait segera melakukan pengecekan dan penanganan agar kerusakan tidak meluas,” katanya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bukit Biru, Hasim Adnan, mengapresiasi langkah DPRD Kukar yang turun langsung ke lapangan.

“Kami bersyukur DPRD datang melihat kondisi sebenarnya. Jalan dan jembatan ini sudah rusak sekitar 10 tahun tanpa perbaikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sekitar 90 persen ruas jalan tidak dapat dilalui kendaraan bermuatan hasil panen. Akibatnya, petani terpaksa mengangkut padi secara manual.

“Hanya motor tanpa muatan yang bisa lewat. Selama ini kami gotong royong mengangkut hasil panen sedikit demi sedikit,” pungkasnya. (Rob/Bey)