Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Advertorial

Ketika Lada Kehilangan Kilau, Batu Ampar Tetap Menjaga Harapan dari Tanahnya

162
×

Ketika Lada Kehilangan Kilau, Batu Ampar Tetap Menjaga Harapan dari Tanahnya

Sebarkan artikel ini

Kutai Timur – Aroma tanah basah selepas hujan masih menyelimuti perkebunan di Batu Ampar. Di antara hutan dan perbukitan, para petani kembali menaruh harapan pada tanaman yang tumbuh perlahan. Setiap langkah mereka di tanah lembap adalah wujud ketekunan. Meski terpencil dan penuh tantangan, Batu Ampar tetap menjadi ruang hidup tempat harapan tumbuh bersama alam.

Di wilayah yang dikenal dengan hasil nanasnya, ternyata tersimpan dua komoditas lain yang pernah menjadi sumber kebanggaan, lada dan karet. Dua hasil bumi ini sempat membawa kesejahteraan bagi warga, sebelum harga pasar perlahan memudarkan kejayaannya.

Camat Batu Ampar, Suriansyah, menyebut bahwa masyarakat di beberapa desa hingga kini masih menggantungkan hidup pada dua komoditas tersebut.

“Komoditas unggulan selain nanas adalah lada dan karet,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tanaman lada pernah menjadi andalan utama warga, terutama ketika harga jualnya mencapai puncak beberapa tahun lalu.

“Lada sempat menjadi primadona dengan harga tinggi, namun kini menurun,” katanya.

Menurut Suriansyah, meski harga tidak lagi sebaik dulu, semangat petani untuk mempertahankan kebun tetap tinggi. Mereka terus menanam, berharap pasar kembali pulih.

Pemerintah kecamatan juga berupaya mendorong inovasi dalam pengolahan hasil, seperti pembuatan minyak lada dan lateks olahan agar nilai jualnya meningkat.

“Petani di Batu Ampar ini tangguh, mereka tidak berhenti meski harga turun,” ucapnya dengan nada optimistis.

Lada dan karet mungkin tak lagi seterang dulu, tetapi dari tangan para petani pedalaman, kedua komoditas itu tetap menjadi lambang ketekunan dan cinta pada tanah sendiri, kisah sederhana yang menegaskan bahwa harapan bisa tumbuh bahkan di saat nilai pasar jatuh(SH/ADV).