Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialDPRD Kota Samarinda

Keraguan Terhadap Pembangunan Terowongan Samarinda: Samri Shaputra Soroti Kualitas dan Keamanan

309
×

Keraguan Terhadap Pembangunan Terowongan Samarinda: Samri Shaputra Soroti Kualitas dan Keamanan

Sebarkan artikel ini

Anggota DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra. (Berby/Times Kaltim)

Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, mengungkapkan keraguannya terhadap kualitas dan keamanan pembangunan Terowongan Samarinda yang berlokasi di Jalan Sultan Alimuddin. Keraguan ini muncul setelah presentasi dari kontraktor terkait pengalaman mereka dalam membangun terowongan serupa di Indonesia.

“Kami meminta kontraktor menunjukkan daerah mana saja yang pernah mereka bangun terowongan seperti ini di Indonesia. Mereka menunjukkan proyek di Jawa Tengah, tetapi itu jalurnya kereta api,” jelasnya, baru-baru ini.

Samri menilai bahwa perbedaan kondisi tanah antara Jawa dan Kalimantan sangat signifikan, yang dapat mempengaruhi stabilitas terowongan.

“Kalau membandingkan Jawa dan di sini sangat jauh berbeda. Jawa itu tanahnya keras sedangkan kita di sini tanahnya labil dan mudah longsor,” ungkapnya.

Kekhawatiran Samri semakin diperkuat dengan pertimbangan biaya operasional terowongan. Menurutnya, biaya operasional untuk lampu dan blower yang harus menyala 24 jam akan jauh lebih mahal dibandingkan opsi lain, seperti pemotongan gunung atau pembangunan flyover.

“Misalnya, biaya awal untuk membangun terowongan ini lebih murah, tetapi biaya berkelanjutannya sangat mahal. Lampu dan blower harus menyala 24 jam, dan itu bukan biaya yang sedikit serta harus dibayar tiap bulan,” paparnya.

Sebagai politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Samri berharap agar Pemerintah Kota Samarinda dapat mempertimbangkan kembali opsi lain untuk pembangunan terowongan guna memastikan keamanan dan keberlanjutan mega proyek tersebut.

“Opsi yang paling tepat sebenarnya adalah pemotongan gunung atau pembangunan flyover, meskipun opsi ini ditolak karena dianggap lebih mahal dalam proses pembangunannya,” tuturnya.

Samri menggarisbawahi pentingnya pemilihan solusi infrastruktur yang tidak hanya ekonomis dalam jangka pendek, tetapi juga aman dan berkelanjutan untuk masa depan.

“Kami berharap pemerintah dapat mengambil keputusan yang bijak demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Samarinda,” tutupnya. (Bey)