Soal Obat Sirup Terkait Gagal Ginjal Akut Menyerang Anak, Ini Imbauan Dinkes Kaltim Dan DPRD Samarinda

KEMENKES RI, mengeluarkan imbauan agar penggunaan obat sirup bagi anak dihentikan. Hingga, perkara tersebut dapat teratasi.(Ilustrasi)

Timeskaltim.com, Samarinda – Persoalan Obat batuk serta demam berbentuk sirup untuk anak. Diduga menjadi dalang kasus gagal ginjal hingga menelan banyak korban. Terlebih, kasus tersebut merambah di berbagai negara. Indonesia salah satunya. 

Berdasarkan informasi yang beredar, sebanyak 15 produk sirup obat di Indonesia teridektifikasi mengandung etilen glikol, salah satu senyawa yang dikaitkan dengan gagal ginjal akut. Informasi ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI dr Dante Saksono Harbuwono dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, dr H Jaya Mualimin, menyebutkan, warga Kaltim tidak perlu panik berlebihan. 

“Sementara ini, belum ditemukan kasus serupa di Kaltim. Adanya ditemukan di Jawa, terutama Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur,” sebut dokter Jaya, sapaan akrabnya, ketika ditemui awak media, belum lama ini.

Penjelasan Dinkes Kaltim Terkait Jenis Obat Sirup

Namun demikian, Dinkes Kaltim langsung melakukan langkah antisipasi dengan menyampaikan edaran ke seluruh rumah sakit, puskesmas dan dokter, termasuk asosiasi dokter. Ia meminta semua pihak agar mewaspadai terkait sirup yang mengandung, dietilen glikol dan etilen glikol yang dicurigai menyebabkan gagal ginjal pada anak. 

“Mudah-mudahan dengan surat edaran ini, bisa diterima dan sudah sampai ke semua teman dokter dan perawat untuk sementara tidak meresepkan sirup yang dicurigiai menjadi penyebab gagal ginjal. Walaupun di Kaltim kasusnya belum dilaporkan,” sambungnya. 

Itu sebabnya, ia kembali menegaskan agar warga tidak panik. Apalagi Badan POM sudah beberapa kali menyampaikan, sirup yang mengandung dua bahan tersebut memang tidak terdaftar di Indonesia. 

“Kalau terdaftar, sudah ditarik sejak lama. Kasus ini ditemukan di Gambia, Afrika. Khusus di Indonesia sedang didalami, apakah karena bahan itu, atau karena yang lain,” bebernya. 

Pemerintah, kata dia, akan terus melakukan langkah pencegahan dan antisipasi agar kondisi ini bisa segera diketahui penyebabnya dan bisa mengambil langkah terbaik. 

Apalagi Kementerian Kesehatan juga sudah menginstruksikan semua apotek agar tidak menjual obat bebas ataupun obat bebas terbatas dalam bentuk cair untuk sementara waktu.

Jumlah Data Kasus Gangguan Ginjal Akut Menurut IDAI

Diketahui, belakangan merebak kasus gangguan ginjal akut misterius atau gangguan ginjal akut progresif atipikal yang menyerang anak-anak, umumnya balita. Gejala yang perlu diwaspadai adalah penurunan volume atau frekuensi urine maupun tidak ada urine, dengan atau tanpa demam/gejala prodromal lain.

Jika ditemukan gejala tersebut, masyarakat diimbau segera menuju ke klinik, rumah sakit, ataupun fasilitas kesehatan terdekat. 

Orang tua yang memiliki anak terutama usia balita untuk sementara juga disarankan tidak mengonsumsi obat-obatan yang didapatkan secara bebas tanpa anjuran dari tenaga kesehatan yang kompeten sampai dilakukan pengumuman resmi dari pemerintah.

Sebelumnya dikabarkan, berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat 192 kasus gangguan ginjal akut misterius di 20 provinsi hingga Selasa (18/10/2022). 

Data ini berasal dari cabang IDAI yang dia terima dan merupakan kasus kumulatif sejak Januari 2022. Masing-masing Januari 2 kasus, Maret 2 kasus, Mei ada 6 kasus, Juni ditemukan 3 kasus, Juli ada 9 kasus, disusul Agustus 37 kasus dan terakhir, September 81 kasus.

Gangguan ginjal akut (acute kidney injury/AKI) ini paling banyak di DKI Jakarta mencapai 50 kasus. Kemudian Jawa Barat 24 kasus, Jawa Timur 24 kasus, Sumatera Barat 21 kasus, Aceh 18 kasus, dan Bali 17 kasus. Provinsi lainnya antara 1-2 kasus. Penderita didominasi bayi di bawah usia lima tahun (balita).

Kepedulian Dan Imbauan Damayanti

Ditemui terpisah, Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Damayanti mengimbau kepada warga Samarinda. Untuk terus menjaga, penggunaan obat sirup kepada buah hati si kecil. Ia juga menyoroti, kurang maksimalnya BPOM dalam mengindentifikasi pengawasan obat masuk dalam genggaman masyarakat setempat.

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Damayanti.(Dok Times Kaltim)

“Berarti kan, proses pengawasan obat itu sangat kurang, mentang-mentang obat itu beredar kemudian sudah mendapatkan izin tidak dilakukan tindak lanjut lagi dalam pengawasan,” tegas Damayanti.

Politisi wanita asal Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB ini berpesan, agar terus memantau keputusan dari pemerintah pusat. 

Kata dia, untuk mengawasi peredaran obat-obat tersebut. Agar sampai imbauan dari pusat untuk tidak mendistribusikan obat itu hingga di perjual belikan di apotek, toko dan swalayan.

“Ke depannya harus segera dilakukan sidak kepada apotek atau toko obat, apakah masih menjual obat-obat yang dirasa berbahaya sehingga tidak beredar lagi di masyarakat,” ucapnya.

“Ikuti arahan pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan. Sementara kalau ada anak sakit, jangan beli obat bebas sembarangan. Minta resep dokter,” sambungnya. 

Damayanti berharap, penyebab gagal ginjal pada anak itu bisa segera ditemukan sehingga tidak meresahkan masyarakat. 

“Semoga bisa segera diantisipasi dengan baik, dan anak Indonesia tetap sehat tanpa kekhawatiran obat ini,” tandasnya. (Adv/Wan)

Berikut Daftar Obat Sirup Yang Ditarik Dari Pasar:

1. Termorex Sirup (obat demam)

Diproduksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.

2. Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu)

Diproduksi PT Yarindo Farmatama dengan nomor izin edar DTL0332708637A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.

3. Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu)

Diproduksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1, kemasan Dus, Botol Plastik @ 60 ml.

4. Unibebi Demam Sirup (obat demam)

Diproduksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL8726301237A1, kemasan Dus, Botol @ 60 ml.

5. Unibebi Demam Drops (obat demam)*, Diproduksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL1926303336A1, kemasan Dus, Botol @ 15 ml.(*)

*Data tersebut dilansir melalui CNNIndonesia.com berjudul Daftar 5 Obat Sirop yang Ditarik BPOM Terkait Kasus Gagal Ginjal Akut.