Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Kukar

Hydrant Kering Jadi Solusi Disdamkartan Kukar Atasi Krisis Air di Kawasan Rawan Kebakaran

69
×

Hydrant Kering Jadi Solusi Disdamkartan Kukar Atasi Krisis Air di Kawasan Rawan Kebakaran

Sebarkan artikel ini
Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani. (Roby Sugiarto/Timeskaltim)

Timeskaltim.com, Kukar – Keterbatasan sumber air di kawasan pesisir dan permukiman padat mendorong Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kutai Kartanegara (Kukar) menghadirkan inovasi baru dalam sistem penanggulangan kebakaran.

Melalui penerapan hydrant kering, Disdamkartan mencoba menjawab tantangan klasik pemadaman api di wilayah rawan.

Sistem hydrant kering tersebut diuji coba di wilayah Tenggarong, Rabu (07/01/2026), dan menjadi pilot project pertama di Kukar. Inovasi ini dirancang untuk mendukung pola pemadaman yang lebih adaptif, terutama di wilayah yang tidak memiliki pasokan air tawar memadai.

Kepala Disdamkartan Kukar, Fida Hurasani, mengatakan hydrant kering lahir dari kebutuhan riil di lapangan. Selama ini, wilayah pesisir kerap menjadi titik rawan karena sumber air yang tersedia didominasi air laut dan air payau.

“Kami ingin menunjukkan langsung hasil dari arahan Bapak Wakil Bupati. Beliau melihat sendiri kondisi kampung-kampung pesisir yang sangat rentan jika terjadi kebakaran,” ujar Fida Hurasani yang akrab disapa Afe.

Ia menjelaskan, penggunaan air laut tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena memerlukan peralatan khusus akibat kandungan garam yang berpotensi merusak mesin. Sementara itu, jaringan PDAM memiliki keterbatasan baik dari sisi debit maupun tekanan air.

Berangkat dari kondisi tersebut, Disdamkartan Kukar berupaya memaksimalkan peralatan yang sudah dimiliki, khususnya mesin pompa, dengan menyiapkan jaringan pipa berstandar khusus. Fokus utama inovasi ini adalah menjaga kekuatan dan stabilitas aliran air saat digunakan dalam situasi darurat.

“Kendala terbesar justru ada di jaringan pipa. Kami sempat mencari spesifikasi yang tepat, sampai akhirnya menemukan standar yang aman untuk tekanan tinggi,” jelasnya.

Hasil uji coba hydrant kering menunjukkan capaian yang cukup signifikan. Dengan tekanan yang disesuaikan, aliran air mampu menjangkau hampir satu kilometer dan dinilai efektif untuk melayani kawasan permukiman padat.

“Alhamdulillah, hasilnya di luar perkiraan kami. Jarak aliran air bisa mendekati satu kilometer. Menurut saya, ini sudah sangat berhasil,” kata Afe.

Sistem hydrant kering ini dirancang dengan konsep sederhana dan manual agar mudah diterapkan di berbagai wilayah Kukar tanpa ketergantungan pada infrastruktur kompleks. Selama tersedia sumber air, mesin pompa, dan pipa dengan spesifikasi yang tepat, sistem ini dapat difungsikan secara optimal.

“Kami tidak ingin sistem yang rumit. Prinsipnya sederhana, mudah diterapkan, tapi efektif,” ujarnya.

Selain efektivitas pemadaman, aspek keamanan jangka panjang juga menjadi perhatian. Penggunaan pipa yang tidak sesuai standar dinilai berisiko mengalami kerusakan akibat tekanan tinggi. Karena itu, Disdamkartan Kukar memilih spesifikasi yang dinilai paling aman dan realistis untuk dikembangkan hingga ke kecamatan lain.

Afe menegaskan, hydrant kering merupakan wujud kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam mengantisipasi kebakaran, terutama di wilayah yang selama ini sulit dijangkau sistem pemadaman konvensional.

“Kunci utama pemadaman kebakaran adalah ketersediaan air. Masih ada kawasan rawan di Tenggarong dan wilayah lain yang sudah kami petakan. Jangan sampai kami dianggap melakukan pembiaran,” tegasnya.

Dengan jangkauan hampir satu kilometer, satu titik hydrant kering diperkirakan mampu menjangkau hingga dua RT. Namun, Disdamkartan Kukar menekankan pentingnya perawatan fasilitas serta peran aktif masyarakat dalam menjaga sistem tersebut.

“Kami berharap masyarakat ikut menjaga fasilitas ini dan tidak merusaknya. Ini bukan sekadar pipa, tapi menyangkut keselamatan banyak orang,” pungkasnya. (Rob/Bey)