Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Kukar

Film ‘Misteri Tuana Tuha’ Angkat Kekayaan Budaya Kutai ke Layar Kaca

223
×

Film ‘Misteri Tuana Tuha’ Angkat Kekayaan Budaya Kutai ke Layar Kaca

Sebarkan artikel ini
ebuah film berjudul "Misteri Tuana Tuha".

Timeskaltim.com, Kukar – Legenda dan budaya lokal Kutai Kartanegara (Kukar) akan segera hadir dalam balutan media visual. Sebuah film berjudul “Misteri Tuana Tuha” tengah diproduksi sebagai bagian dari promosi budaya dan pariwisata daerah.

Bertempat di Pendopo Wakil Bupati Kukar, Tenggarong, pada Rabu (25/06/2025). Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar menggelar workshop pembuatan film tersebut.

Penggarapan film “Misteri Tuana Tuha” ini sendiri diproduseri oleh Ahmad Zulfiansyah dan mulai digarap sejak Senin (23/06/2025). Proyek ini melibatkan para aktor lokal dan tokoh masyarakat yang turut menyumbangkan warna dalam penceritaan.

Film ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi membawa misi penting untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada masyarakat luas. Mengangkat kisah dari Desa Tuana Tuha yang berada di Kecamatan Kenohan, film ini akan dikemas dengan nuansa misteri yang dibalut nilai-nilai budaya.

Selepas workshop selesai, Plt Sekretaris Dinas Pariwisata Kukar, Sugiarto, menyampaikan bahwa media film menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya, sejarah, dan destinasi wisata lokal.

“Dengan adanya media online dan sosial, penyebaran informasi mengenai kebangkitan wisata di Kukar sangat cepat, khususnya terkait legenda, kebudayaan, dan pendidikan yang ada di Kukar,” ungkap Sugiarto.

Tuana Tuha dipilih sebagai lokasi utama dalam film bukan tanpa alasan. Ia menjelaskan bahwa desa tersebut memiliki keunikan dan kekayaan cerita yang patut diangkat ke layar kaca.

“Ada sesuatu yang khas di Tuana Tuha yang memang harus diangkat. Hal ini bisa menjadi identitas budaya yang memperkuat jati diri Kukar,” tambahnya.

Melalui film ini, Dispar Kukar berharap dapat meningkatkan minat wisatawan terhadap daerah-daerah yang sebelumnya kurang dikenal. Lebih dari itu, inisiatif ini juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru melalui industri kreatif dan lapangan kerja lokal.

Meski belum ada kepastian mengenai penayangan film ini di bioskop, Sugiarto menyebut pihaknya akan mengupayakan agar film dapat ditayangkan di layar kaca, setelah melewati proses produksi yang memenuhi standar perfilman nasional.

“Ke depan, insyaallah akan kita coba fasilitasi agar bisa tayang lebih luas. Selain promosi wisata dan budaya, ini juga menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat lokal,” pungkasnya. (Rob/Bey)