Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialDPRD Kaltim

Fadly Imawan: Budaya Lokal Harus Masuk Ekonomi Digital agar Tak Sekadar Jadi Kenangan

242
×

Fadly Imawan: Budaya Lokal Harus Masuk Ekonomi Digital agar Tak Sekadar Jadi Kenangan

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kaltim, Fadly Imawan. (Istimewa)

Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Fadly Imawan, menyerukan pentingnya langkah inovatif dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal di tengah pesatnya perkembangan era digital. Baginya, budaya bukan hanya sekadar warisan yang dipamerkan dalam event seremonial, melainkan aset strategis yang dapat diolah menjadi sumber kekuatan ekonomi berbasis kreativitas.

“Selama ini kita terlalu sering menempatkan budaya di ruang-ruang terbatas, seperti museum atau panggung seremoni. Padahal, potensi ekonomi yang terkandung di dalamnya sangat besar jika mampu diadaptasi ke platform digital,” ujar Fadly, pada Kamis (31/07/2025).

Ia melihat peluang besar di mana budaya lokal bisa “dihidupkan kembali” melalui media digital yang akrab dengan generasi muda dan mampu menjangkau audiens global. Menurutnya, digitalisasi budaya adalah kunci agar identitas lokal tetap relevan sekaligus berdaya guna dalam konteks ekonomi kreatif.

Fadly mencontohkan bagaimana konten berbasis kebudayaan, mulai dari pertunjukan seni virtual, produk kreatif digital, hingga materi edukasi daring, dapat membuka peluang usaha yang luas dan inklusif bagi masyarakat.

“Integrasi budaya dan teknologi digital ini bukan hanya soal melestarikan, tapi juga membuka pintu ekonomi baru yang lebih adaptif terhadap zaman,” tambah politisi muda dari Partai Gerindra tersebut.

Namun, Fadly juga mengingatkan bahwa digitalisasi budaya tidak bisa berjalan sendiri. Ia mendorong agar pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kebudayaan, berperan aktif membangun infrastruktur digital yang merata, termasuk menyediakan pelatihan teknologi bagi pelaku seni budaya di daerah.

“Pelaku seni dan budaya kita perlu difasilitasi agar mampu beradaptasi dengan teknologi. Ini pekerjaan bersama yang harus melibatkan regulasi yang mendukung, sektor pendidikan, dan tentunya kolaborasi dengan pelaku industri kreatif,” jelasnya.

Ia menegaskan, kolaborasi lintas sektor mulai dari komunitas kreatif, akademisi, pelaku bisnis, hingga industri pariwisata adalah pondasi penting untuk menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi yang berkelanjutan dan mampu bersaing di level global.

“Budaya tidak boleh hanya dilestarikan, tapi harus dimanfaatkan secara produktif sebagai pilar pembangunan ekonomi daerah,” tutupnya. (Adv/Rob/Bey)