Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Kukar

Eksistensi Musik Tradisional Kaltim, Jadi Fokus Sosialisasi BPK Wilayah XIV di Tenggarong

396
×

Eksistensi Musik Tradisional Kaltim, Jadi Fokus Sosialisasi BPK Wilayah XIV di Tenggarong

Sebarkan artikel ini
Kegiatan Diskusi Sosialisasi Pemajuan Kebudayaan Oleh BPK Wilayah XIV Kaltimtara di Terrace Cafe, Tenggarong, Kukar. (Roby Sugiarto / Times Kaltim)

Timeskaltim.com, Kukar – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XIV Provinsi Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimtara) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar sosialisasi pemajuan kebudayaan, bertajuk “Eksistensi Musik Tradisional Di Kalimantan Timur” di Terrace Cafe, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), pada Selasa (17/12/2024).

Helatan ini turut mengundang, Kepala BPK Wilayah XIV Kaltimtara Kemendikbudristek, Lestari, perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Bidang Kebudayaan, Jabatan Fungsional (Jafung) Pamong Budaya Ahli Muda, M.Saidar, dan Pelaku Budaya, pemain alat musik tradisional Sampek, Alif Fakot, yang menjadi narasumber di kegiatan tersebut.

Melalui, Kepala BPK Wilayah XIV Kaltimtara, Lestari menyampaikan, bahwa Kabupaten Kukar, menjadi salah satu barometer pelaku budaya musik tradisional di Kaltim.

Hal ini terlihat dari tingginya antusiasme dan aktivitas budaya yang ada di Tenggarong atau dikenal dengan julukan sebagai Kota Raja tersebut.

“Tahun lalu, Tenggarong juga telah menggelar festival musik tradisi. Hal ini membuktikan bahwa banyak pelaku budaya musik tradisional di wilayah ini,” ujar Lestari, Selasa (17/12/2024).

Menurutnya, sosialisasi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi bagi para pelaku budaya, tetapi juga sarana diskusi untuk menyampaikan gagasan demi memajukan kebudayaan lokal.

Salah satu fokus pembahasan adalah bagaimana musik tradisional dapat memberikan dampak ekonomi bagi pelakunya.

“Kebudayaan tidak hanya bertujuan memajukan seni itu sendiri, tetapi juga membentuk ekosistem yang saling bersinergi,” ucapnya

“Contohnya, bagaimana musik tradisional bisa memberikan manfaat ekonomi, tidak hanya bagi pemainnya, tapi juga bagi pengrajin alat musik dan penyelenggara ruang publik. Maka dari itu, sosialisasi ini menjadi wadah bagi para pelaku musik tradisi, untuk menyampaikan keluh kesahnya,” tambah Lestari.

Sementara itu, menyikapi hal tersebut, perwakilan dari Disdikbud Kukar, melalui bidang kebudayaan, Jafung Pamong Budaya Ahli Muda, M. Saidar menuturkan, diskusi seperti ini sangat penting sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku budaya di Kukar.

“Kegiatan ini memberikan ruang bagi para pelaku budaya untuk menyampaikan aspirasi mereka. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan, baik oleh BPK maupun Disdikbud Kukar,” ucap pria yang akrab disapa Deri.

Deri juga mengatakan, bahwa masukan dari para pelaku budaya yang muncul dalam diskusi tersebut akan ditindak lanjuti oleh Disdikbud Kukar, khusunya pada bidang kebudayaan.

“Perihal masukan-masukan yang telah dilontarkan oleh pelaku budaya dalam diskusi ini, kami akan diskusikan dengan pimpinan kami, terkait keresahan yang dialami bagi para pelaku budaya,” jelasnya.

Terakhir, kata dia, dukungan yang telah diberikan oleh pemerintah daerah terkait kebudayaan sudah di programkan, seperti kegiatan “Ekspresi Budaya” yang menjadi wadah bagi para pelaku Seni, yang berlangsung di depan Museum Mulawarman, di Titik Nol.

Program tersebut tentunya dapat memberikan ruang bagi seniman untuk menampilkan karyanya di ruang publik.

“Dari Disdikbud sendiri khususnya pada bidang kebudayaan, kita sudah membuat program ekspresi budaya, untuk menjadi wadah bagi para pelaku seni,” pungkasnya. (Rob/Bey)