Timeskaltim.com,Kukar – Dugaan kelalaian dalam pelayanan kesehatan kembali menjadi sorotan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Seorang bayi laki-laki berusia sekitar enam bulan meninggal dunia setelah keluarga mengaku tidak mendapatkan bantuan oksigen saat dibawa ke Puskesmas Batuah. Selain itu, ambulans disebut tidak dapat digunakan karena sopir tidak berada di tempat.
Kuasa hukum orang tua almarhum, Titus T. Pakalla dari TTP & Partner Law Office, saat dikonfirmasi Rabu (18/02/2026), memaparkan kronologi kejadian berdasarkan keterangan ayah korban, Muhammad Tahir, warga Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan.
Menurut Titus, bayi tersebut mulai sakit sejak Sabtu dan mengalami demam tinggi pada hari kedua. Kondisinya memburuk hingga mengalami sesak napas pada Senin (16/02/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 Wita, sehingga orang tua memutuskan membawa korban ke Puskesmas Batuah untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Perjalanan menuju puskesmas disebut memakan waktu hampir satu jam karena jarak yang cukup jauh dan kondisi jalan yang rusak.
“Dari rumah menuju jalan poros Batuah sekitar lebih dari 10 kilometer, kemudian dilanjutkan perjalanan menuju puskesmas dengan kondisi jalan yang rusak,” ujar Titus menirukan keterangan keluarga.
Setibanya di puskesmas, petugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan disebut berencana memberikan bantuan oksigen karena kondisi korban sudah sesak napas. Namun, berdasarkan pengakuan keluarga, seluruh tabung oksigen yang tersedia saat itu dalam keadaan kosong.
“Anak dalam kondisi sekarat. Tujuan utama dibawa ke puskesmas adalah untuk mendapatkan pertolongan pertama berupa bantuan oksigen sebelum dirujuk,” katanya.
Karena oksigen tidak tersedia, pihak puskesmas disebut berencana merujuk korban ke rumah sakit menggunakan ambulans. Namun sopir ambulans tidak berada di lokasi. Keluarga mengaku berada di puskesmas sekitar 40 hingga 50 menit tanpa tindakan medis yang dianggap memadai.
Akhirnya, orang tua membawa bayi tersebut menggunakan mobil milik tetangga menuju Rumah Sakit I.A. Moeis Samarinda Seberang. Namun dalam perjalanan sekitar lima kilometer, bayi diduga telah meninggal dunia. Meski demikian, keluarga tetap melanjutkan perjalanan ke rumah sakit untuk memastikan kondisi korban.
“Setibanya di rumah sakit, dokter menyatakan bayi tersebut telah meninggal dunia dengan kondisi tubuh membiru dan diperkirakan meninggal dalam perjalanan,” jelas Titus.
Setelah pemakaman, pihak Puskesmas Batuah mendatangi keluarga untuk memberikan klarifikasi, menyusul viralnya video kejadian di media sosial. Titus mengaku memiliki rekaman klarifikasi tersebut.
“Dalam klarifikasi itu, pihak puskesmas mengakui bahwa tabung oksigen saat kejadian memang dalam keadaan kosong,” tuturnya.
Sebagai kuasa hukum, Titus mempertanyakan pengawasan terhadap ketersediaan fasilitas vital seperti oksigen serta kesiapsiagaan sopir ambulans. Ia juga menyoroti lamanya waktu penanganan terhadap pasien dalam kondisi kritis.
“Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan pertama bagi masyarakat, terutama yang jauh dari rumah sakit. Tabung oksigen tidak boleh dibiarkan kosong karena ini menyangkut nyawa manusia,” tegasnya.
Almarhum bayi diketahui baru berusia sekitar enam bulan dan baru lima hari belajar makan. Pihak keluarga berharap kejadian serupa tidak terulang, baik di Puskesmas Batuah maupun fasilitas kesehatan lainnya di Kalimantan Timur, khususnya Kukar.
Kuasa hukum menyatakan pihaknya akan menempuh jalur hukum atas dugaan kelalaian tersebut serta mendorong evaluasi dari Dinas Kesehatan. Mereka juga mempertimbangkan melaporkan kasus ini ke Ombudsman terkait dugaan maladministrasi pelayanan publik.
Hingga berita ini diturunkan, menurut keterangan keluarga, belum ada perwakilan pemerintah desa yang datang menemui pihak keluarga. Keluarga berharap ada tanggung jawab dan evaluasi menyeluruh agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. (Rob/Pii)












