Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialDPRD Kota Samarinda

DPRD Samarinda Dorong Edukasi Sejak Dini Guna Hadapi Bencana

127
×

DPRD Samarinda Dorong Edukasi Sejak Dini Guna Hadapi Bencana

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi mitigasi bencana sejak dini di sekolah. (Ist)

Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota Komisi III DPRD Samarinda, M Andriansyah, menyampaikan bahwa upaya membangun ketahanan bencana tidak bisa hanya bertumpu pada instansi pemerintah. Justru, titik awal yang paling krusial ada di lingkup keluarga.

Menurut Andriansyah, keluarga adalah fondasi utama dalam menciptakan masyarakat yang tanggap dan siap menghadapi bencana. Tanpa kesiapsiagaan yang dimulai dari rumah, berbagai kebijakan dan infrastruktur mitigasi yang dibangun pemerintah akan sulit memberikan hasil maksimal.

“Kalau kita bicara soal kota yang tahan bencana, maka jangan lupakan keluarga. Edukasi kebencanaan harus masuk ke rumah tangga,” ujarnya.

Ia menyoroti pentingnya pengetahuan dasar tentang kebencanaan yang dapat dipahami seluruh anggota keluarga, seperti cara evakuasi, mematikan listrik saat banjir, hingga menyelamatkan anak-anak ke tempat aman. Menurutnya, kesadaran semacam ini bisa menyelamatkan banyak nyawa saat terjadi bencana.

Lebih lanjut, Andriansyah mendorong agar program Katana (Kelurahan Tangguh Bencana) tidak berhenti di tataran administratif. Ia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan model edukasi yang lebih membumi dan langsung menyasar masyarakat, seperti lewat posyandu, PKK, atau lembaga pendidikan.

“Modul pelatihan yang ringan, bisa disisipkan ke sekolah atau forum ibu-ibu. Dengan cara itu, edukasi bisa menyebar secara masif dan praktis,” jelasnya.

Ia juga menilai penting untuk memasukkan materi kebencanaan dalam kurikulum sejak dini. Dengan membekali anak-anak dengan pemahaman tentang risiko dan penanganan bencana, generasi mendatang akan tumbuh lebih siap menghadapi situasi darurat.

Andriansyah mengingatkan bahwa selama ini, banyak korban bencana muncul bukan semata karena infrastruktur yang buruk, tapi karena kurangnya pemahaman tentang apa yang harus dilakukan saat krisis terjadi.

“Bicara soal mitigasi bukan hanya soal bangunan atau logistik. Tapi soal menyiapkan mental, pengetahuan, dan langkah-langkah praktis di tingkat keluarga. Di situlah ketahanan sejati dibentuk,” pungkasnya. (Adv/Bey)