Lingkungan sekolah jadi salah satu tempat yang paling sering terjadi kekerasan. (Ist)
Timeskaltim.com, Samarinda – Kekerasan yang menimpa perempuan dan anak masih kerap kali ditemukan di Kaltim. Mengacu pada data dari Simfoni PPA per 1 Oktober 2022, 33 persen korban kekerasan paling banyak merupakan lulusan SMA 33 persen, lulusan SMP 19 persen, lulusan SD 25 persen, dan 1 persen pendidikan terakhirnya adalah TK.
Sementara itu, jika melihat karakteristik korban kekerasan berdasarkan pekerjaan, korban terbanyak merupakan pelajar yakni 37 persen. Kemudian 57 persen korban terbanyak belum menikah. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kasus kekerasan banyak terjadi di lingkungan sekolah.
Analis Kebijakan Ahli Muda Sub Koordinator Tindakan Kekerasan Anak di Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim, Nova Paranoan mengungkapkan ada banyak faktor yang mengakibatkan kasus kekerasan terjadi di sekolah. Kendati begitu, faktor terbanyak justru karena durasi waktu para siswa yang tak sepenuhnya ada di rumah.
“Kaltim ini tinggi di tingkat pelajar karena sebagian besar anak ini ada di luar rumah, dua per tiga dia dalam sehari diluar, sebagian kecil di rumah. Tapi kadang di luar itu di luar batas kemampuan guru. Mungkin di situ ada kecenderungan, kekerasan itu bisa terjadi karena dari orang luar,” jelas Nova, Jumat (2/12/2022).
Pun Nova mengimbau kepada pemerintah di tingkat kabupaten dan kota agar bisa memerhatikan fenomena tersebut. Dalam hal ini, perlu ada upaya maksimal dari pemerintah daerah agar ada pencegahan terhadap kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan seperti sekolah.
“Ini harus jadi perhatian pemerintah daerah untuk menghadapi kekerasan yang terjadi di tingkat pendidikan,” tutupnya. (Gan/adv/DKP3A Kaltim)












