Kasus kekerasan dan penelantaran anak rumah tangga masih dianggap tak serius oleh kalangan masyarakat setempat. (Ist)
Timeskaltim.com, Samarinda – Penelantaran dalam rumah tangga masih dianggap sebagai sesuatu yang tak begitu serius. Masyarakat awam menilai, penelantaran bukan kasus yang berat seperti kekerasan fisik atau seksual pada umumnya.
Sementara itu, Koordinator Tim Psikolog UPTD PPA Samarinda, Ayunda Ramadhani mengungkapkan, penelantaran jadi salah satu bentuk kekerasan pada perempuan dan anak. Sebab ada dampak juga yang dirasakan oleh korban. Sama seperti ketika yang dialami korban di kekerasan lain.
“Biasanya dianggap penelantaran itu nggak terlalu berat, seperti kekerasan fisik. Sebenarnya itu asumsi yang salah. Pengabaian itu berdampak betul pada psikis,” ujar Ayunda, Kamis (/1/12/2022).
Secara umum, korban penelantaran terjadi pada anak. Di mana, orangtua tak memberi perhatian yang berarti ke anak, bahkan tak menaruh rasa peduli. Nyatanya, hal tersebut memiliki dampak besar ke psikis anak sampai usianya dewasa.
“Karena diabaikan, anak merasa tidak berharga. Kalau sudah merasa tidak berharga, maka konsep diri kita cenderung menjadi negatif. Korban menganggap enggak ada yang sayang dirinya, tidak layak untuk dicintai, enggak cukup baik untuk orangtuanya,” lanjut Ayunda.
Penelantaran itu pun bakal berdampak ke konsep pribadi individu tersebut. Bahkan konsep yang diterapkan justru berkonotasi negatif atau minder. Sampai ketika orang lain melakukan perbuatan buruk ke dirinya, dia tak akan sanggup menolak. Sebab orang itu merasa dirinya tak ada harga.
“Malah dia bisa jadi nggak percaya diri dan tidak bisa melakukan hal-hal yang positif,” tandasnya.(Gan/adv/DKP3A Kaltim)












