Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, menyampaikan pandangannya terkait wacana kembalinya Ujian Nasional (UN) sebagai bagian dari sistem evaluasi pendidikan di Indonesia.
Sebagai seorang yang telah berkecimpung dalam dunia pendidikan selama hampir dua dekade, ia menilai kebijakan tersebut dapat menjadi pemicu semangat belajar bagi siswa.
“Kalau secara pribadi, saya yang menjadi pendidik dari tahun 2006 sampai 2024, mendukung adanya ujian nasional. Karena masyarakat kita itu butuh pemicu, butuh dorongan supaya mau belajar,” ujar Ismail, baru-baru ini.
Ia menilai bahwa upaya meniru sistem pendidikan Finlandia, yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia, belum tentu tepat jika diterapkan sepenuhnya di Indonesia.
“Karakter masyarakat Indonesia berbeda dengan Finlandia. Di sana tidak ada PR, jam belajar hanya setengah hari, tidak ada ujian nasional. Kalau diterapkan di sini belum tentu cocok,” jelasnya.
Ismail menambahkan, perlu adanya evaluasi menyeluruh sebelum mengadopsi sistem pendidikan dari negara lain. Ia menekankan bahwa ujian nasional dapat menjadi alat untuk mendorong siswa mencapai target belajar yang jelas.
“Kalau mau lulus, ya harus belajar sungguh-sungguh. Ujian itu menjadi semacam tekanan yang positif. Seperti di Cina, masyarakatnya bisa maju karena mereka ditekan untuk belajar, dan hasilnya bisa kita lihat dalam kemajuan pendidikannya,” ungkapnya.
Menanggapi metode penilaian yang digunakan dalam beberapa tahun terakhir, seperti asesmen sumatif dan formatif tanpa ujian nasional, Ismail menganggap pendekatan tersebut belum sepenuhnya efektif, terlebih bagi siswa yang ingin bersaing di perguruan tinggi.
“Asesmen itu tidak bisa dijadikan hasil akhir prestasi siswa. Kompetisi itu tetap penting, apalagi saat mereka ingin masuk perguruan tinggi. Mereka harus punya daya saing, dan itu butuh tolok ukur yang jelas,” pungkasnya. (Adv/Bey)












